Minggu, 05 Januari 2014

AWESOME SPOTS OF INDONESIA

Postingan kali ini sebenarnya berawal dari seember penuh kurang kerjaan dan secuil penasaran "Mau dikemanain dan harus diapain semua foto-foto yang udah berdesak-desakan secara hina, saking banyaknya mereka."
Diakui atau tidak, aku memang cukup hobi mengabadikan apa yang dilihat dan dirasakan. Kadang sengaja menciptakan objek untuk diabadikan, syukur-syukur kalo pas nemu objek dan hati kecilpun berkata 'ambil dia, ambil dia' (Hyperbola is online now. Hahaha)
Kembali soal foto, karena kemudian sempat terpikir bahwa alangkah baiknya beberapa foto-foto potensial itu diolah dan dikembangkan potensinya. Berbekal kenekatan dan aplikasi seadanya (FYI, aku bukan tipe manusia yang hobi sama ribetnya ngedit foto sebenarnya. Jadi mungkin seleranya jauh dari nilai standar minimal). Tapi aku rasa itu bukan masalah signifikan. Yang penting objek-objek yang sengaja aku bekukan melalui kamera itu bisa punya nilai tambah walaupun sedikit. Dan aku pikir, biar eksistensi para foto itu bisa dinikmati dan berguna, aku memutuskan untuk melakukan sedikit polesan. Toh, aku semakin yakin bahwa 'terkadang gambar memang berbicara lebih banyak daripada sederet kalimat'. 
Beberapa gambar yang aku pilih kali ini cukup berjasa buat menyulut kecintaanku sama negara sendiri. Aku nggak nyalahin program studi yang aku pelajari selama ini, yang cenderung mengunderestimate negara-negara kecil. Hahaha. Tapi sedikit banyak, pola pikirku juga sering bawel sama diri sendiri. "Kenapa sih aku orang Indonesia?", adalah salah satu kalimat tanya klise yang cukup sering muncul tiap ngeliat indahnya Venice, Tuscany, Paris, dan Bora-bora Island. Kesannya memang aku durhaka sama negeri yang sudah Tuhan percayakan untuk aku tempati. Tapi kemudian, pengabadian suatu momen bisa berarti lebih dari sekedar tujuan pengabadian. Ketika aku sedikit mencoba untuk mencerna objek-objek yang dibekukan lewat lensa kamera, aku pun sadar beberapa gambar itu berbicara secara ajaib.
Ya, Indonesia punya pesonanya sendiri yang mungkin memang nggak bisa dibandingkan dengan negara-negara empat musim, tapi Indonesia tetep punya pesona yang bisa disandingkan dengan keindahan-keindahan di belahan dunia lain tersebut. Beberapa ini adalah objek-objek yang eksistensinya mengetuk pintu hati kecilku dan menegur dengan halus bahwa aku tetap harus bersyukur menjadi bagian dari Indonesia. Terlepas dari Indonesia sebagai "state", dan kali ini merujuk pada Indonesia sebagai "country". Ini cuma sebagian kecil dari ribuan bahkan mungkin jutaan pesona alam yang dimiliki Indonesia :)  

Foto ini diambil dengan kamera HP seadanya :D And I'd like to say that this place is incredible amazing! :) Walopun pas disana isinya makhluk-makhluk berjubel yang bikin ngeri kalo-kalo Borobudur overload. Aku juga sempet bayangin pengen ngerampok bank sentral amerika buat beli bangungan yang begini :| 

Kali ini gambarnya diambil nggak cuma make kamera HP seadanya, tapi juga dengan model seadanya. Hahaha. 

Kalo yang ini, secara nggak sengaja diambil di tengah perjalanan dari Salatiga ke Magelang, dari balik kaca. Nggak tau nama daerahnya, yang jelas, kece bingits ya :)

Sementara, yang terakhir ini beda setting tempatnya dari tiga sebelumnya, cuma karena masih satu tema, jadi not so bad lah ya kalo digabungin. Gambar ini diambil waktu lagi nengok kebun babe yang terbengkalai di Jepara. Di sini anginnya eksotis banget, tapi mataharinya nyolot, tanahnya merah imut, dan masih banyak area yang keliatan alami :)

Lantas tidak ada alasan untuk tidak bersyukur memiliki dan dimiliki oleh Indonesia, negeri yang masih punya banyak alam ijo-ijonya gini :)) INDONESIA!




Rabu, 01 Januari 2014

FELICE ANNO NUOVO!!

“Jangan engkau pikirkan, yang lalu-lalu. Ingatlah akan masa depanmu.”
Sederet lirik lagu ini emang terkesan klasik. Tapi itulah fakta paling deket sama tahun baru. Sebelum lanjut menuhin halaman ini, perkenankan daku mengucapkan Bonne annee alias nav varsh ki subhkamna alias felice anno nuovo alias HAPPY NEW YEAR!! *ketjup bango :3
Ngomong-ngomong soal tahun baru, sebenernya momen ini nggak pernah jauh sama bahasan tentang waktu. Lebih spesifik, momen tahun baru itu emang masa peralihan antara yang lama dan yang baru, pintu antara yang di belakang dan di depan. Tiba-tiba keinget juga soal asal muasal kata sebutan untuk bulan pertama di kalender masehi, kenapa nama bulan pertama ini bukan Zipora, melainkan Januari? Jawabannya adalah terinspirasi dari salah satu nama dewa orang-orang Romawi, yaitu Janus, yang merupakan dewa dengan dua muka. Terlepas dari berbagai persepsi orang dalam memaknai dua muka si Janus ini, tapi make sense kalo tahun baru itu sebenernya sama kayak fenomena tersebut. Dimana dengan transisi dimensi waktu ini berarti kita menyambut apa yang akan dihadapi di depan. Di sisi lain, kita nggak boleh lupa sama yang di belakang. Nggak selamanya melihat ke belakang itu bahaya, sejauh tujuan melihat itu untuk melakukan evaluasi diri :D
Jadi meskipun aku termasuk orang yang pro sama gerakan move on, tapi aku juga pendukung gerakan ‘jasmerah’. Salah satu bukti kalo melihat ke belakang itu bisa berdampak signifikan adalah kalo kita sadar betapa pentingnya kaca spion untuk sebuah kendaraan. Mungkin tanpa kaca spion sih masih bisa jalan itu kendaraan, tapi cukup bahaya. Selain berpotensi ditilang polisi, nggak menutup kemungkinan bisa menambah angka kecelakaan lalin. Jadi dengan cukup mantap bisa dibilang bahwa melihat ke belakang itu penting, tapi fokus ke depan adalah jauh lebih penting.
Kembali ke spion lagi, yang menginspirasi untuk melihat ke belakang untuk mendukung masa depan. Kalo diperhatiin lagi, spion itu juga tempatnya ga sembarangan, hanya ditaruh di spot-spot tertentu pada suatu kendaraan. Itu artinya, nggak semua-semua yang ada di belakang harus dilihat. Ada bagian-bagian tertentu yang memang perlu dilihat, ada juga bagian-bagian tertentu yang memang nggak perlu ditengok. Begitu juga masa lalu. Selain itu, kaca spion juga cenderung kecil ukurannya. Jadi bisa diartikan kalo melihat masa lalu itu memang perlu, tapi jangan kebanyakan. Kurang bisa ngebayangin kalo kaca spion yang harus dipasang adalah segedhe papan tulis. Pertama, itu nggak praktis, kedua, mungkin bisa ngedistrak fokus pengendaranya karena justru kebanyakan objek di belakang yang bisa dilihat. Pun juga masa lalu. Kalo dosis yang dilihat masih wajar, itu bisa jadi kaca spion yang berfungsi. Tapi kalo ngelihat masa lalunya overdosis, itu bisa sama dengan ketika kita masang kaca spion segedhe papan tulis tadi buat kendaraan yang dinaiki J
Oke, moving on. Masih seputar topik tahun baru. Aku sendiri sebenernya agak nyesek masuk ke 2014 dan yang pertama menyilet benak adalah kata ‘skripsi’ dan ‘wisuda’. Tapi Tuhan itu baik, lewat papa, aku ngerasa diberi pesan untuk tahun baru ini. Pesan itu bersumber dari kitab Pengkhotbah 3:1, yang demikian bunyinya “Untuk Segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Ayat ini sukses bikin aku terharu putih (Kebetulan aku lagi suka warna putih ketimbang biru). Dalam segala hal, kadang manusia memang pengennya buru-buru. Di situlah obsesi menciptakan ‘masa’ justru sering jadi boomerang buat manusia. Aku sendiri kadang ngerasa kalo aku harus A, B, dan C, sekarang. Dan kemudian frustasi karena kenyataannya tidak demikian. Ini yang aku maksud menciptakan ‘masa’ sendiri. Ironisnya, manusia memang hobi menciptakan ‘masa’. Sering lupa kalo Tuhan lah yang mengatur semuanya. Jadi, nggak salah kalo ada kalimat bijak yang bilang “Tuhan tidak pernah terlambat, Dia juga tidak pernah tergesa-gesa. Dia selalu tepat waktu.”
Semua ada waktunya. Mau nggak mau, ini juga menyeret kepada sebuah keyakinan bahwa nggak ada yang abadi. Semua memang ada waktunya. Berarti dimensi waktu yang diciptakan nggak cuma satu. Maka inspirasi lainnya dari momen tahun baru adalah, bahwa belajar untuk menikmati semua yang terjadi dan dihadapi itu perlu. Karena semua ada masanya, maka nggak ada dukacita abadi, dan nggak ada sukacita yang terus-terusan mewarnai kehidupan. Untuk itu, kalo pas lagi sedih, inget aja masa-masa seneng yang pernah dan pasti akan datang lagi. Begitu juga kalo lagi seneng, jadilah seneng yang sewajarnya dan tetep mawas diri. Hehehe.
Well, it’s around 02.53am now. I’m sleepy already, guys. Thus, best wishes for new days of 2014 ahead, for you and me. Sugeng warsa enggal sedaya. Gusti mberkahi… J







Senin, 30 Desember 2013

A Relationship

Yang namanya jomblo itu beda sama single. Yang nggak setuju nggak perlu lanjutin bacanya. Hahaha

Jadi tulisan ini bermula dari pemberontakan hati kecil atas tuduhan-tuduhan miring yang akhir-akhir ini sering aku terima. Nggak cuma kado natal, tapi juga hinaan yang aku hadapi dengan cukup santai karena aku yakin itu bukan kenyataan. Bermula dari acara kumpul natal keluarga besar, kemudian tragedi pembullyan oleh para sepupu, pelabelan dan statusisasi "jomblo" dengan sadisnya, hingga tawaran pacar yang berpotensi menewaskan kepercayaan diri seorang single. Hey, I'm not that desperate. Thanks!
Aku setuju sama sebuah statement yang pernah aku baca tentang pembedaan jomblo dan single. Salah satu yang paling membekas di ingatan adalah "Jomblo: jadian sama siapa aja, yang penting orang | Single: Jadian harus sama orang penting."
Mungkin faktanya nggak seekstrim itu. Tapi... ah, ya gitulah, I do hope you know what I mean :D
Jadi intinya, kenapa harus buru-buru in relationship hanya karena cercaan sebagai jomblo yang diterimakan? Kalo kita yakin kesendirian ini adalah masa-masa single yang indah, you can change the world's point of view! Why not? Hahaha
Ngomong-ngomong tentang in relationship, nggak jauh-jauh sama yang namanya move on. Biasanya fase single merupakan masa tenggang antara done relationship dan move on. Banyak kasus sih gitu. Jadi single itu bukan berarti nggak laku. Malah aku pernah denger juga sebuah argumen bagus yang bilang kalo "Yang jelek itu biasanya lebih gampang punya pacar". No offense, tapi cukup berbasis fakta empiris yang sering dijumpai di lapangan. Bukan berati kita harus sengaja nggak punya pacar biar nggak dikatain jelek ya :D
Nah, tapi ini juga kemudian menjadi sebuah dukungan bagi para single yang sebenernya memilih untuk menjadi single. Well, meskipun kadang ada juga yang sebenernya udah pengen punya pacar, tapi mereka tetep enjoy sebelum akhirnya menemukan the right one versi masing-masing. Para single ini menurutku adalah mereka yang merupakan spesies keren. Being single is better than a wrong relationship. Yup bener banget, karena memang single itu nggak lebih buruk dari wrong relationship. Buat apa maksain statusisasi in relationship kalo ternyata cuma buat biar dikata laku, keliatan keren, kemana-mana ada temennya, dll dll. Dan buat apa buru-buru pengen move on instan demi sebuah hubungan baru yang ternyata malah berpotensi jatuh lagi (karena ngebut itu berpeluang besar buat celaka di jalan) :)
Poinnya bukan berarti in relationship itu salah, tapi selama seseorang itu sadar bahwa sebuah hubungan itu memakan proses (kalau mau instan sih bikin mie aja), maka semakin besar seseorang tersebut bisa membangun hubungan yang nggak asal-asalan. Terinspirasi dari proses fermentasi anggur, buat jadi anggur berkualitas, prosesnya nggak kejar tayang. Mulai dari bibit yang diharapkan bisa jadi anggur yang bisa ada di sebuah gelas dan berlabel mahal, butuh waktu, kerja keras, dan usaha. Begitu juga suatu hubungan. Just an opinion sih, tapi intinya yang penting jangan asal-asalan membangun sebuah hubungan kalo itu hanya demi menghindari kumandang status single. Dan untuk menjadi single yang baik, jangan biarkan bullyan alam sekitar menjatuhkan keyakinan bahwa kamu adalah single dan bukan jomblo. Hahaha ;)
Hidup Single!! Enjoy the process, keep thinking positively :3


Ini adalah inti dari tulisan kali ini, sekaligus mau pamer hasil jepretan iseng dan text adding ala kadarnya. Semoga bisa menguatkan iman para single dimanapun berada. Mumumu.... :D



p.s. Unsur muatan tulisan hanyalah berasal dari dunia saya yang absurd. Baik foto maupun substansi tulisan. Harap maklum. Sekian dan terima sumbangan :*




Minggu, 29 Desember 2013

Just Nice To Meet You...

Katanya orang cenderung enggan membaca buku yang sama dan sudah pernah dibaca, atau menonton film yang sudah pernah ditontonnya, dan mentertawakan kembali lelucon yang sudah pernah didengarnya.
Hari ini aku berharap bisa jadi orang berjenis demikian. Tapi rasanya kurang cukup berhasil.

Berawal dari surprise akhir tahun dari Tuhan, dimana papa diundang buat pelayanan di suatu gereja yang denger namanya aja- aku udah tahu akan seperti apa seandainya aku benar-benar mengunjungi gereja itu. Dan aku semakin yakin bahwa Tuhan itu humoris. Mau nggak mau, aku harus nahan gemeter, suhu tubuh mendadak turun, dan berusaha terlihat sewajar mungkin waktu aku tahu kalo ini bukan mimpi malam natal. Aku bener-bener datang ke suatu tempat yang ngingetin sama eksistensi satu makhluk yang nggak bisa disangkal keberadaannya, yang pernah bener-bener bikin aku semangat sekolah, semangat masuk SMA favorit, sekaligus galau karena ditinggal ngilang-ngilang sampe akhirnya ga pernah ketemu sejak bertahun-tahun lalu. HAHAHA!
Berasa diterbangin angin kenceng ke suatu dimensi ruang dan waktu yang selama ini udah berusaha aku lupain. Dimensi ruang dan waktu dimana aku diem-diem suka sama temen sekelas, sampe akhirnya harus ngeliat dia sama orang lain. Hahaha, at least today was not that day.
Intinya, hari ini aku bisa belajar kalo emang Tuhan itu selalu punya cara buat segala hal. Aku memang nggak berniat buat kembali ke feeling yang dulu. Tapi meskipun hari ini aku berharap logikaku bekerja seratus kali lipat lebih aktif, tapi nggak bisa disangkal kalo niatku sejak semalem nggak terlalu berhasil. I just wanna make him feel “If the chain is on my door, you should understand”
Cukup aku dan Tuhan yang tau betapa cukup menyiksa menahan grogi luar biasa sebelum akhirnya aku harus senyum dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja saat disapa. Dan cukup aku dan Tuhan yang tahu saat aku masih terlonjak senang bukan kepalang ketika mendengar nada yang sama pada kata “Zipo”, gembira luar biasa ketika akhirnya dia mengirimkan pesan setelah acara gereja selesai, sakit perut ketika dia bertanya “Mungkin cuma perasaanku atau emang iya, tapi tiap ngomong sama kamu kok kamu ga liat mukaku ya? Bener ga? Hehe”


Iya, bener. Aku selalu nggak bisa. Dari dulu. Dan harusnya kamu tahu. Tapi yasudahlah. Just nice to meet you today...




Selasa, 05 November 2013

NOVEMBRE'

Halo, blog! Lama ya nggak ketemu.Hahaha Aku baru selesai sok sibuk nih. Banyak cerita sejauh ini, tapi aku ceritainnya ke laporan magang. Hehe, jangan jeles ya, Blog J
Roller Coaster yang aku naikin sejak Juli? Sejak aku nggak pernah nyambangin kamu? Banyak. Banyak penambahan dan pengurangan dalam diriku loh. Haha Isn’t that cool enough? Nggak kerasa sekarang aku fixed jadi mahasiswa tua. Pantes aja kemarin sempet galau mau balik ke Malang. Aku ngerasa diusik lagi. Aku ngerasa nggak mau ‘ngerasain’ tua. Aku ngerasa udah nyaman sama kehidupan sebelumnya. Aku ngerasa peraturan kampus itu aneh. Aku ngerasa dan aku mikir kalo aku cukup gila kalo sampe nggak mau balik ke kampus :D

So sad to be honest, kadang yang aku ngerasa lucu dari hidup ini, manusia, kayaknya memang tercipta sebagai makhluk pencari yang harus menemukan dan meninggalkan ketika sudah menemukan. Ya, kalopun nggak semua manusia mengalami itu, at least aku satu-satunya manusia yang ngerasa itu. Sering kita dipaksa (hingga kemudia terbiasa) nyaman pada suatu kondisi, dan setelahnya kita harus tinggalin itu semua. Ya mungkin statement ini merupakan bagian dari ketidakikhlasanku buat harus balik ke kampus setelah apa yang aku nikmati akhir-akhir ini.
Awalnya, aku harus magang, meninggalkan zona nyaman di kampus bareng temen-temen. Kemudian harus terjun ke dunia kerja yang aku bayangin enak tapi bakal penuh tekanan. Dan diakui atau tidak sebenernya aku males waktu harus berangkat magang. Tapi bersyukur Tuhan kasih aku semangat dengan tempat magang yang oke lah ya. Aku inget banget 1 bulan pertama aku magang dan masih bener-bener nggak habis pikir sama kondisi yang harus aku senangi. Apa yang bisa disenangi dari lalu lintas freak dan 1000% bikin ilfil dan ilang semangat ngantor, lingkungan kantor yang isinya orang2 tua dan aku berasa anak kecil yang main2 di tempat yang nggak seharusnya, jauh dari keluarga, dan nggak ada temen? Pada titik itu, aku harus seneng dan beradaptasi sama semua kondisi yang terhampar. Aku memang seneng sama kegiatan kantor, tapi lingkungan, kondisi lain-lain (terutama lalu lintas), justru hal sepele itu yang selalu sukses bikin mood baik jadi melayang sebelum sempet sampe kantor. Beruntung rekan kerja juga baik-baik walaupun mereka tua-tua K
Tapi aku inget kebaikan Tuhan. Waktu aku berusaha adaptasi dan secara total seneng sama semua kondisi di sana, seorang temen baru dikirim jauh-jauh dari Madrid. Dia calon Ph. D yang keterlaluan cool menurutku. Dia lagi diundang penelitian sama pihak kedubes India. Sosok inspiring deh. Pengalamannya yang banyak bikin dia sukses jadi kakak perempuan idaman yang nunjukkin banyak hal, nemenin jalan-jalan,berbagi ini itu. Sampe akhirnya aku betah di tempat magang dan Jakarta seutuhnya. Sayangnya waktuku tinggal dua minggu sebelum akhir Agustus- yang artinya magangku udah hampir selesai. *sigh* Jadi aku harus pergi setelah aku udah betah gitu? Ya, itulah hidup. Kadang fakta kedengeran nggak jauh beda sama lawakan. Tapi emang anugerah itu nggak pernah habis. Tepat seminggu sebelum jadwal magang selesai, aku ingetin kepala kantor kalo minggu depan adalah minggu terakhirku. Dan tiga hari setelahnya aku dipanggil beliau. Freaking surprised! Awalnya beliau nanya apa kesibukan setelah balik nanti. Aku jelasin bakal nyelesaiin report dan skripsi. Dan beliau tanya apa aku harus setiap hari ke kampus. Off course, no. Jadi akhirnya aku ditawarin kerja di sana. Setelah aku bilang aku nggak bisa kelamaan karena itu aturan dari kampus, beliau tawarkan jalan tengah kalo aku bisa nyoba kerja di sana sampe akhir oktober. Sebenernya ditawarin pun udah cukup bikin terbang ngawang, tapi ternyata Mr. Gupta, kepala kantor itu bilang kalo aku bakal terhitung sebagai local staff dan digaji sejak September sampe Oktober. Aku dikasih kesempatan terlibat di 2 kepanitiaan besar, Perayaan 100 Tahun Sinema India dan Kunjungan Perdana Menteri India, yang bahkan nggak semua staff lama dilibatkan. Intinya, aku menikmati semua kehidupanku di sana. Kehidupan yang lebih mandiri (mentally and financial), kehidupan kerja yang ngajarin banyak hal, nggak cuma hardskill tapi juga softskill. Masih inget banget gimana kadang unsatisfiednya ngelakuin sesuatu dengan nggak sepikiran cuma karena beda latar belakang budaya sama partner kerja. Tapi aku bener-bener suka semua itu. Hingga akhirnya aku memang harus balik ke kampus. Balik ke dunia mahasiswa, dunia yang…. Ah, ya sudahlah.

Sedihnya ninggalin zona nyaman yang dulu diperjuangkan untuk didapat demi memperoleh zona nyaman yang lain lagi, itu yang aku nggak habis pikir sama hidup manusia. Tapi aku inget ada satu orang yang pernah bilang, “But people move on, kan. Can’t stay in one place forever”. Seenggaknya itu cukup menghibur. People. I’m not alone then.  J Dan mungkin aku yang aku rasain pas galau harus ninggalin zona nyaman kemarin, itu belum seberapa dibanding pengalaman orang yang mungkin harus pergi setelah 8 tahun tinggal di suatu tempat. Hahaha. The spirit carries on! *nyalain kembang api*





Selasa, 16 Juli 2013

Overcast Morning struck~

Oke,
Sebenernya aku lagi sibuk dan punya banyak hal yang harus dikerjakan. Tapi pagi ini aku iseng aja pengen ngebuka timeline twittermu. Sebenernya juga, bukan sekarang. Dan itu hanya “seharusnya”. Hari Selasa, yang sejak aku buka mata, udah digadang-gadang bakal jadi hari yang menyenangkan, ternyata mulai melenceng dari jalur prediksi yang diharapkan. Pukul 10.44am. Rasanya masih terlalu pagi untuk menjadi tidak bersemangat. Masih terlalu pagi juga untuk mengkondisikan bendungan feeling yang harus dikamuflasekan dengan helaan nafas berulang kali. Ini akibat melakukan sesuatu di waktu yang tidak tepat. “Seharusnya”. Ya, seharusnya tidak pagi ini. Seharusnya juga, bukan timelinemu yang aku baca.

Rasanya sedang dipaksa keadaan untuk menjadi baik-baik saja di tengah ketidakbaikan. Dan rasanya, aku merasa bersalah jika harus bersedih untuk kebahagiaan seseorang. Di satu sisi, aku turut bersukacita untuk keberhasilanmu. Setidaknya itu titik terang dari upayamu mencapai sukses. Selamat, ya…

Dari awal aku sudah sangat yakin bahwa kamu memang akan lolos untuk program beasiswa itu. Bukan karena aku sok kenal. Tapi sejauh aku berusaha mengenalmu, aku tahu kamu berusaha banyak untuk semua mimpi-mimpimu. Itu, kamu. Tapi aku juga benci ketika aku meyakini hal itu. Dengan kata lain, aku juga ‘terpaksa’ meyakini bahwa akan ada jarak yang semakin jauh. Meskipun- juga- jika seandainya- tidak ada jarak geografis- akan menjamin ada cerita lain. Ya, aku tahu, tidak ada apa-apa di antara kita. Aku tahu juga, hanya ada jarak di antara kita. Dan semakin jauh, semakin itu ‘berarti’ buatku. Aku nggak peduli sudut pandangmu berbeda. Atau bahkan kamu nggak punya sudut pandang sama sekali untuk hal ini karena memang kamu nggak ambil peduli soal ini. Ya, ini memang urusanku dengan hati dan perasaanku.
Aku sempat berpikir, setelah berbeda pulau, kita akan juga berbeda negara, bahkan benua. Ah, ternyata list perbedaan ini bakal terus bertambah ya :”)
Okelah, aku cuma bisa berdoa supaya kamu terus sukses di jalanmu, disertai Tuhan di dalam jalanNya. Mungkin ini klasik, tapi aku nggak pernah menganggap kekuatan doa itu klasik :)
Sukses buat setiap tahap yang bakal kamu lalui sebelum meninggalkan Indonesia ya…

Ohya, selamat buat Triton yang udah punya temen :D




Minggu, 14 Juli 2013

LIFE IS A SONG TO LIVE. SING! :))

THE BEGIN WHERE I END
Apa yang kira-kira bisa dilakuin kalo tanggal 1 udah harus hidup ‘jadi’ orang Jakarta tapi sampe 2 hari sebelumnya belum dapet tempat tinggal K
Rasanya mau panik juga udah telat, mau nggak panik juga nggak mungkin. Hahaha
Oke, and the rock journey have begun. Tepatnya tanggal 29 Juni 2013. Demam panggung sebelum magang sebenernya udah melanda seminggu sebelum jadwal magangku dimulai (1 Juli 2013). Pasalnya, sampe tanggal 29 Juni aku berangkat ke Jakarta, dalam posisi belum tahu arah dan tujuan karena belum dapet kos. Kesulitan itu datang dari letak instansi tempat aku magang yang lumayan untouchable sama kantong mahasiswa. Ah ya, sebentar, sebelum aku nyeritain bagian ini, aku mau ngereka ulang gimana perlahan semua ini ada di hadapanku. Rasanya seperti mimpi.
Aku nggak peduli udah pernah cerita atau belum, yang pasti aku selalu excited buat nyeritainnya dan dengan senang hati nyetel ulang momen-momen yang berkaitan sama kesempatan ini. Jadi berawal dari sebuah penasaran dan kekagumanku sama budaya India yang menurutku hampir sama kayak Indonesia. Multikultur dan multi-multi yang lainnya, keeksisannya yang semakin terendus dunia, kembaran isu yang sama kayak Indonesia which is terorisme. Hahaha :D Sampe kesamaannya sama Bali. Pulau yang bener-bener aku idolain sejak SMP. K Nah, sekitar akhir maret menuju April, aku berencana kirim email ke embassy India di Jakarta. Setelah nunggu sekitar beberapa hari, ternyata aku diminta datang langsung ke kantor embassy-nya. Berhubung saat itu lagi masa UTS dan lagi Malang dan Jakarta itu jaraknya sejauh aku sama "dia” (halaahhh -__-“) maka jadilah aku memohon-mohon untuk diberikan kesempatan kedua. Sejak itu aku mulai terombang ambing dengan kejengkelan pada diri sendiri yang seolah nyia-nyiain kesempatan. Karena sejak itulah nggak ada lagi balesan email dari pihak embassy. Aku masih ngeyel dan ngotot bin pede (FYI, agenda magang Juli dan sampe April aku masih bersikeras untuk menggantungkan satu-satunya nasib magangku ke kedutaan India ini. Aku kirim ulang email, sok-sok an mastiin kalo email balasanku udah masuk apa belum, atau jadi spam. Hehehe J tapi emailku bertepuk sebelah tangan, aku tetep dikacangin sama pihak Embassy, sampe lebih dari seminggu dan hampir dua minggu. Menginjak pertengahan April, aku beraniin untuk email ke pihak atasan (yang setelah aku tahu, beliau ini posisinya sekretaris II di Political Wing), aku kenalin ulang identitas, keperluan, sekaligus pengaduan dengan kalimat sok manis kalo aku nggak dibales sama pihak embassy (Dan kala itu juga aku yakin kalo taraf kepedeanku udah keren bets~ K). Dengan setia, aku sambangin yahoo.com tiap hari. Sampe seminggu nihil, walhasil aku udah berencana move on meskipun hatiku berkata bahwa aku harus tetep memilih embassy India. Ouch :”)
Seminggu dikacangin, aku mulai sedikit belajar realistis atas sakitnya bertepuk sebelah tangan. Sampe akhirnya kesalahan justru terulang di tengah-tengah penurunan daya juang. Aku lengah buka email dan nelat dua hari. Dan pas buka email nangis kejer karena ternyata ada email balasan dari pihak Deputy Chief of Mission (Vice Ambassador). Aku diminta datang untuk kedua kalinya, dan kali kedua itu juga aku menyia2kan kesempatan kedua yang pernah aku minta sebelumnya. Aku nggak kesel sama mereka yang balesnya lama, tapi justru aku stress dan kesel karena aku segampang itu mau move on dan ceroboh buat pasrah gitu aja. Disini aku mulai belajar bahwa keyakinan itu harus total, nggak usah setengah2. Harusnya waktu itu kalo aku memang yakin bakal bisa ke embassy, aku harus lebih yakin dan nggak nyerah di “ujung” yang aku konstruksikan sendiri.
Dengan tebel muka, aku menghubungi pihak embassy dan nyeritain ulang kalo aku jauh dari Jakarta dan aku nggak bisa diundang mendadak, juga kesalahanku buat telat buka email. Setelah permintaan maaf dengan embel-embel minta dipanggil (lagi!), aku mulai bener-bener frustasi dan kali ini bener2 berusaha nyiapin diri kalo memang mungkin aku harus nerima kenyataan kalo aku nggak berjodoh sama  embassy India dan harus nyari tempat lain buat magang :”) Guess what, sampe seminggu lebih nggak ada balesan, dan itu adalah bulan Mei. Ya, Mei, dan belum dapet tempat magang. Hahaha, keren bukan?! Aku mulai nyiapin proposan buat Freeport sebagai bukti usahaku untuk move on dengan berat hati. Tapi bersyukur Dia masih Tuhan, dan mujizat masih ada buatku. Pertengahan Mei mereka akhirnya kasih aku kebijakan yang lebih manis dan “ajaib” buatku. Aku diminta ngirim berkas dan dokumen terkait proposal, CV+foto, covering letter dari kampus, dan beberapa dokumen lainnya. Okay, setelah keajaiban pemberian kesempatan screening data dan seleksi awal secara online, kabar baik itu datang di akhir Mei dan aku dikasih kesempatan untuk interview tanggal 6 Juni 2013. Dengan penuh semangat, aku interview dan yaayyyy, lolos. Puji Tuhan.
……. (to be continued)

GET IT STARTED
Akhirnya hari yang bikin deg-deg an dan nervous sebelum tiba waktunya, hari magang pertama, 1 Juli 2014, udah di depan mata. Tapi masalahnya, mataku belum punya arah buat ngelihat dimana aku akan tinggal selama magang 2 bulan nanti. Pasalnya, embassy ini lokasinya di daerah Kuningan yang isinya gedung-gedung kantor, pusat perbelanjaan, hotel, dan keperluan hedon yang nggak perlu dimention satu-satu. Yeah, mungkin kalo aku beneran udah kerja, adalah masuk akal buat nyewa tempat tinggal 5 juta per bulan yang berupa residences atau apartment. Ya, kebanyakan di sekitar Kuningan adalah tempat tinggal sewaan demikian rupa, atau syukur-syukur kalo mau tinggal di J.W Marriot atau Ritz Carlton. Hahahah
Syukurlah, setelah 29 Juni meluncur ke Jakarta dianter orang serumah, tanggal 30 Juni aku dianter muter2in wilayah sekitar Kuningan buat nyari kos. Dan akhirnya aku dapet di sekitar Menteng Dalam. Bagusnya lagi, itu deket banget sama tempat cuci mata yang masih sekitaran sama kompleks Mega Kuningan. (Uhuuukk, salah fokus! :D)
Walhasil, jadilah sejak itu aku seorang anak Menteng. Ya, itung-itung napak tilas Oom Obama laah~ hahaha
Hari pertama magang aku masih dianter mama papa karena aku terkenal buruk mengenali jalur dan jalan K Sayangnya, Mega Kuningan itu kawasan yang cukup complicated buat pendatang baru (semacam aku). K
Hari pertama di kantor, aku check in dengan disambut tampang2 dingin security2 dan penjaga pos pengunjung yang jumlahnya nggak cuma satu atau dua. Okay lah~ mungkin aku punya tampang teroris meskipun aku nggak pernah bisa neror hatinya “dia” (halaahhh.. maneh! -__-“). Nggak beda sama perlakuan pas aku dateng buat interview, HP dan tas harus ditinggalin di pos penjagaan itu. Aku langsung masuk tanpa babibu karena aku emang udah telat dari jadwal panggilan. Rasanya sebel juga sama lalu lintas di Ibukota ini. Keterlaluan kejem. (And FYI, gegara ngejar waktu, papa juga sempet ditilang gegara make bahu jalan dan kepedean ngikutin mobil polisi yang waktu itu lewat dengan berisiknya ngebelah-belah padetnya lalu lintas.)
Pak Deputy Chief of Mission nya ternyata lagi nggak di ruangan, tapi sekretarisnya yang baru-baru ini aku tau namanya Pak Harpal Singh, dengan sangat ramah menyambut dan meminta untuk menunggu di ruang Pak Raveesh Kumar, si Deputy Chief of Mission yang juga sama gantengnya. (HEALAAAHH! -__- hahhahaa). Setelah menunggu beberapa saat ternyata Bapak itu nggak nyinggung sama sekali soal telatnya aku, entah karena memang pengertian sama fenomena macet, atau karena beliau lebih telat, akhirnya aku nggak canggung lagi karena beliau sangat ramah, hangat, dan justru banyak cerita soal pengalamannya yang pernah liburan ke Bromo (sebelumnya sempet rumpik juga soal apel Malang) hahaha. Setelah beberapa obrolan terkait magang dan tugas, akhirnya aku dimandatkan untuk menemui third secretary sekaligus Head of chancery of political and education, Mr. Pradeeb Gupta. Aku ke ruangannya dan disambut dengan ramah di sana. Mr. Gupta sebelumnya memang udah pernah ketemu karena Beliau yang menginterview aku. Tapi nggak nyangka aja kalo akhirnya Pak Gupta ini excited nanya2 kabar, tempat tinggal ku jadinya dimana, dan bahkan hari pertama itu, Beliau adalah orang yang mengingatkanku untuk tidak lupa makan siang. Oleh Mr. Gupta pula akhirnya aku mencopot name tag “visitor / guest” dan menghubungi pihak keamanan untuk memberikan tas dan mengijinkan aku membawa HP. Yayyyy… my first time in getting that license was a great moment. Unforgettable! Aku juga nggak perlu laporan lagi pake kertas “visitors slip” lagi buat keluar masuk :3 Thank you! I feel so blessed!

Aku ditempatkan di Political Wing, dan kemudian tugas-tugas mulai berdatangan. Meskipun tugas utamaku sebenarnya bukan bidang yang diinginkan, tapi inilah kesempatan untuk benar-benar belajar dari magang. Sebelumnya, aku nggak pernah doyan isu politik domestik. Tapi setelah aku menemui Mrs. Vartika Rawat yang kemudian menugaskanku untuk membantunya menyediakan tambahan informasi untuk menyusun weekly report yang harus dikirim ke pemerintah India pusat, terkait isu tertentu. Sayangnya, isu yang diinginkan Mrs. Vartika adalah tentang politik domestik, khususnya PEMILU 2014! Nothin to say. It’s okay :”) but, finally it’s proven that life begins at the end of comfort zone. Mau nggak mau aku harus mulai membiasakan diri buat ngepoin semua media di Indonesia yang memuat berita politik dan khususnya the upcoming 2014 general election. Berasa apa banget pas pertama (mau nggak mau) aku harus tau ada berapa partai yang bakal ikut pemilu, skandal partai, kasus Hambalang, Cebongan, Century, internal partai, sampe elektabilitas partai dan kandidat, dan analisa kesemua fenomena tersebu. Oh, great! Dan berita online itu selalu bergerak tiap jam! Jadi sehari rasanya baca banyak banget “gossip” masalah partai A, B, C, dan tokoh D, E, F, dan G. :”) Tapi justru di hari ke dua dan ke tiga, aku merasa bahwa ini menyenangkan dan akan sangat berguna! Kapan lagi aku mau belajar menyukai apa yang sebelumnya bahkan nggak aku lirik sama sekali, kalo bukan dengan cara kayak gini dan di waktu ini. Thanks for these chances, all! Thanks, Lord! J