Selasa, 16 Juli 2013

Overcast Morning struck~

Oke,
Sebenernya aku lagi sibuk dan punya banyak hal yang harus dikerjakan. Tapi pagi ini aku iseng aja pengen ngebuka timeline twittermu. Sebenernya juga, bukan sekarang. Dan itu hanya “seharusnya”. Hari Selasa, yang sejak aku buka mata, udah digadang-gadang bakal jadi hari yang menyenangkan, ternyata mulai melenceng dari jalur prediksi yang diharapkan. Pukul 10.44am. Rasanya masih terlalu pagi untuk menjadi tidak bersemangat. Masih terlalu pagi juga untuk mengkondisikan bendungan feeling yang harus dikamuflasekan dengan helaan nafas berulang kali. Ini akibat melakukan sesuatu di waktu yang tidak tepat. “Seharusnya”. Ya, seharusnya tidak pagi ini. Seharusnya juga, bukan timelinemu yang aku baca.

Rasanya sedang dipaksa keadaan untuk menjadi baik-baik saja di tengah ketidakbaikan. Dan rasanya, aku merasa bersalah jika harus bersedih untuk kebahagiaan seseorang. Di satu sisi, aku turut bersukacita untuk keberhasilanmu. Setidaknya itu titik terang dari upayamu mencapai sukses. Selamat, ya…

Dari awal aku sudah sangat yakin bahwa kamu memang akan lolos untuk program beasiswa itu. Bukan karena aku sok kenal. Tapi sejauh aku berusaha mengenalmu, aku tahu kamu berusaha banyak untuk semua mimpi-mimpimu. Itu, kamu. Tapi aku juga benci ketika aku meyakini hal itu. Dengan kata lain, aku juga ‘terpaksa’ meyakini bahwa akan ada jarak yang semakin jauh. Meskipun- juga- jika seandainya- tidak ada jarak geografis- akan menjamin ada cerita lain. Ya, aku tahu, tidak ada apa-apa di antara kita. Aku tahu juga, hanya ada jarak di antara kita. Dan semakin jauh, semakin itu ‘berarti’ buatku. Aku nggak peduli sudut pandangmu berbeda. Atau bahkan kamu nggak punya sudut pandang sama sekali untuk hal ini karena memang kamu nggak ambil peduli soal ini. Ya, ini memang urusanku dengan hati dan perasaanku.
Aku sempat berpikir, setelah berbeda pulau, kita akan juga berbeda negara, bahkan benua. Ah, ternyata list perbedaan ini bakal terus bertambah ya :”)
Okelah, aku cuma bisa berdoa supaya kamu terus sukses di jalanmu, disertai Tuhan di dalam jalanNya. Mungkin ini klasik, tapi aku nggak pernah menganggap kekuatan doa itu klasik :)
Sukses buat setiap tahap yang bakal kamu lalui sebelum meninggalkan Indonesia ya…

Ohya, selamat buat Triton yang udah punya temen :D




Minggu, 14 Juli 2013

LIFE IS A SONG TO LIVE. SING! :))

THE BEGIN WHERE I END
Apa yang kira-kira bisa dilakuin kalo tanggal 1 udah harus hidup ‘jadi’ orang Jakarta tapi sampe 2 hari sebelumnya belum dapet tempat tinggal K
Rasanya mau panik juga udah telat, mau nggak panik juga nggak mungkin. Hahaha
Oke, and the rock journey have begun. Tepatnya tanggal 29 Juni 2013. Demam panggung sebelum magang sebenernya udah melanda seminggu sebelum jadwal magangku dimulai (1 Juli 2013). Pasalnya, sampe tanggal 29 Juni aku berangkat ke Jakarta, dalam posisi belum tahu arah dan tujuan karena belum dapet kos. Kesulitan itu datang dari letak instansi tempat aku magang yang lumayan untouchable sama kantong mahasiswa. Ah ya, sebentar, sebelum aku nyeritain bagian ini, aku mau ngereka ulang gimana perlahan semua ini ada di hadapanku. Rasanya seperti mimpi.
Aku nggak peduli udah pernah cerita atau belum, yang pasti aku selalu excited buat nyeritainnya dan dengan senang hati nyetel ulang momen-momen yang berkaitan sama kesempatan ini. Jadi berawal dari sebuah penasaran dan kekagumanku sama budaya India yang menurutku hampir sama kayak Indonesia. Multikultur dan multi-multi yang lainnya, keeksisannya yang semakin terendus dunia, kembaran isu yang sama kayak Indonesia which is terorisme. Hahaha :D Sampe kesamaannya sama Bali. Pulau yang bener-bener aku idolain sejak SMP. K Nah, sekitar akhir maret menuju April, aku berencana kirim email ke embassy India di Jakarta. Setelah nunggu sekitar beberapa hari, ternyata aku diminta datang langsung ke kantor embassy-nya. Berhubung saat itu lagi masa UTS dan lagi Malang dan Jakarta itu jaraknya sejauh aku sama "dia” (halaahhh -__-“) maka jadilah aku memohon-mohon untuk diberikan kesempatan kedua. Sejak itu aku mulai terombang ambing dengan kejengkelan pada diri sendiri yang seolah nyia-nyiain kesempatan. Karena sejak itulah nggak ada lagi balesan email dari pihak embassy. Aku masih ngeyel dan ngotot bin pede (FYI, agenda magang Juli dan sampe April aku masih bersikeras untuk menggantungkan satu-satunya nasib magangku ke kedutaan India ini. Aku kirim ulang email, sok-sok an mastiin kalo email balasanku udah masuk apa belum, atau jadi spam. Hehehe J tapi emailku bertepuk sebelah tangan, aku tetep dikacangin sama pihak Embassy, sampe lebih dari seminggu dan hampir dua minggu. Menginjak pertengahan April, aku beraniin untuk email ke pihak atasan (yang setelah aku tahu, beliau ini posisinya sekretaris II di Political Wing), aku kenalin ulang identitas, keperluan, sekaligus pengaduan dengan kalimat sok manis kalo aku nggak dibales sama pihak embassy (Dan kala itu juga aku yakin kalo taraf kepedeanku udah keren bets~ K). Dengan setia, aku sambangin yahoo.com tiap hari. Sampe seminggu nihil, walhasil aku udah berencana move on meskipun hatiku berkata bahwa aku harus tetep memilih embassy India. Ouch :”)
Seminggu dikacangin, aku mulai sedikit belajar realistis atas sakitnya bertepuk sebelah tangan. Sampe akhirnya kesalahan justru terulang di tengah-tengah penurunan daya juang. Aku lengah buka email dan nelat dua hari. Dan pas buka email nangis kejer karena ternyata ada email balasan dari pihak Deputy Chief of Mission (Vice Ambassador). Aku diminta datang untuk kedua kalinya, dan kali kedua itu juga aku menyia2kan kesempatan kedua yang pernah aku minta sebelumnya. Aku nggak kesel sama mereka yang balesnya lama, tapi justru aku stress dan kesel karena aku segampang itu mau move on dan ceroboh buat pasrah gitu aja. Disini aku mulai belajar bahwa keyakinan itu harus total, nggak usah setengah2. Harusnya waktu itu kalo aku memang yakin bakal bisa ke embassy, aku harus lebih yakin dan nggak nyerah di “ujung” yang aku konstruksikan sendiri.
Dengan tebel muka, aku menghubungi pihak embassy dan nyeritain ulang kalo aku jauh dari Jakarta dan aku nggak bisa diundang mendadak, juga kesalahanku buat telat buka email. Setelah permintaan maaf dengan embel-embel minta dipanggil (lagi!), aku mulai bener-bener frustasi dan kali ini bener2 berusaha nyiapin diri kalo memang mungkin aku harus nerima kenyataan kalo aku nggak berjodoh sama  embassy India dan harus nyari tempat lain buat magang :”) Guess what, sampe seminggu lebih nggak ada balesan, dan itu adalah bulan Mei. Ya, Mei, dan belum dapet tempat magang. Hahaha, keren bukan?! Aku mulai nyiapin proposan buat Freeport sebagai bukti usahaku untuk move on dengan berat hati. Tapi bersyukur Dia masih Tuhan, dan mujizat masih ada buatku. Pertengahan Mei mereka akhirnya kasih aku kebijakan yang lebih manis dan “ajaib” buatku. Aku diminta ngirim berkas dan dokumen terkait proposal, CV+foto, covering letter dari kampus, dan beberapa dokumen lainnya. Okay, setelah keajaiban pemberian kesempatan screening data dan seleksi awal secara online, kabar baik itu datang di akhir Mei dan aku dikasih kesempatan untuk interview tanggal 6 Juni 2013. Dengan penuh semangat, aku interview dan yaayyyy, lolos. Puji Tuhan.
……. (to be continued)

GET IT STARTED
Akhirnya hari yang bikin deg-deg an dan nervous sebelum tiba waktunya, hari magang pertama, 1 Juli 2014, udah di depan mata. Tapi masalahnya, mataku belum punya arah buat ngelihat dimana aku akan tinggal selama magang 2 bulan nanti. Pasalnya, embassy ini lokasinya di daerah Kuningan yang isinya gedung-gedung kantor, pusat perbelanjaan, hotel, dan keperluan hedon yang nggak perlu dimention satu-satu. Yeah, mungkin kalo aku beneran udah kerja, adalah masuk akal buat nyewa tempat tinggal 5 juta per bulan yang berupa residences atau apartment. Ya, kebanyakan di sekitar Kuningan adalah tempat tinggal sewaan demikian rupa, atau syukur-syukur kalo mau tinggal di J.W Marriot atau Ritz Carlton. Hahahah
Syukurlah, setelah 29 Juni meluncur ke Jakarta dianter orang serumah, tanggal 30 Juni aku dianter muter2in wilayah sekitar Kuningan buat nyari kos. Dan akhirnya aku dapet di sekitar Menteng Dalam. Bagusnya lagi, itu deket banget sama tempat cuci mata yang masih sekitaran sama kompleks Mega Kuningan. (Uhuuukk, salah fokus! :D)
Walhasil, jadilah sejak itu aku seorang anak Menteng. Ya, itung-itung napak tilas Oom Obama laah~ hahaha
Hari pertama magang aku masih dianter mama papa karena aku terkenal buruk mengenali jalur dan jalan K Sayangnya, Mega Kuningan itu kawasan yang cukup complicated buat pendatang baru (semacam aku). K
Hari pertama di kantor, aku check in dengan disambut tampang2 dingin security2 dan penjaga pos pengunjung yang jumlahnya nggak cuma satu atau dua. Okay lah~ mungkin aku punya tampang teroris meskipun aku nggak pernah bisa neror hatinya “dia” (halaahhh.. maneh! -__-“). Nggak beda sama perlakuan pas aku dateng buat interview, HP dan tas harus ditinggalin di pos penjagaan itu. Aku langsung masuk tanpa babibu karena aku emang udah telat dari jadwal panggilan. Rasanya sebel juga sama lalu lintas di Ibukota ini. Keterlaluan kejem. (And FYI, gegara ngejar waktu, papa juga sempet ditilang gegara make bahu jalan dan kepedean ngikutin mobil polisi yang waktu itu lewat dengan berisiknya ngebelah-belah padetnya lalu lintas.)
Pak Deputy Chief of Mission nya ternyata lagi nggak di ruangan, tapi sekretarisnya yang baru-baru ini aku tau namanya Pak Harpal Singh, dengan sangat ramah menyambut dan meminta untuk menunggu di ruang Pak Raveesh Kumar, si Deputy Chief of Mission yang juga sama gantengnya. (HEALAAAHH! -__- hahhahaa). Setelah menunggu beberapa saat ternyata Bapak itu nggak nyinggung sama sekali soal telatnya aku, entah karena memang pengertian sama fenomena macet, atau karena beliau lebih telat, akhirnya aku nggak canggung lagi karena beliau sangat ramah, hangat, dan justru banyak cerita soal pengalamannya yang pernah liburan ke Bromo (sebelumnya sempet rumpik juga soal apel Malang) hahaha. Setelah beberapa obrolan terkait magang dan tugas, akhirnya aku dimandatkan untuk menemui third secretary sekaligus Head of chancery of political and education, Mr. Pradeeb Gupta. Aku ke ruangannya dan disambut dengan ramah di sana. Mr. Gupta sebelumnya memang udah pernah ketemu karena Beliau yang menginterview aku. Tapi nggak nyangka aja kalo akhirnya Pak Gupta ini excited nanya2 kabar, tempat tinggal ku jadinya dimana, dan bahkan hari pertama itu, Beliau adalah orang yang mengingatkanku untuk tidak lupa makan siang. Oleh Mr. Gupta pula akhirnya aku mencopot name tag “visitor / guest” dan menghubungi pihak keamanan untuk memberikan tas dan mengijinkan aku membawa HP. Yayyyy… my first time in getting that license was a great moment. Unforgettable! Aku juga nggak perlu laporan lagi pake kertas “visitors slip” lagi buat keluar masuk :3 Thank you! I feel so blessed!

Aku ditempatkan di Political Wing, dan kemudian tugas-tugas mulai berdatangan. Meskipun tugas utamaku sebenarnya bukan bidang yang diinginkan, tapi inilah kesempatan untuk benar-benar belajar dari magang. Sebelumnya, aku nggak pernah doyan isu politik domestik. Tapi setelah aku menemui Mrs. Vartika Rawat yang kemudian menugaskanku untuk membantunya menyediakan tambahan informasi untuk menyusun weekly report yang harus dikirim ke pemerintah India pusat, terkait isu tertentu. Sayangnya, isu yang diinginkan Mrs. Vartika adalah tentang politik domestik, khususnya PEMILU 2014! Nothin to say. It’s okay :”) but, finally it’s proven that life begins at the end of comfort zone. Mau nggak mau aku harus mulai membiasakan diri buat ngepoin semua media di Indonesia yang memuat berita politik dan khususnya the upcoming 2014 general election. Berasa apa banget pas pertama (mau nggak mau) aku harus tau ada berapa partai yang bakal ikut pemilu, skandal partai, kasus Hambalang, Cebongan, Century, internal partai, sampe elektabilitas partai dan kandidat, dan analisa kesemua fenomena tersebu. Oh, great! Dan berita online itu selalu bergerak tiap jam! Jadi sehari rasanya baca banyak banget “gossip” masalah partai A, B, C, dan tokoh D, E, F, dan G. :”) Tapi justru di hari ke dua dan ke tiga, aku merasa bahwa ini menyenangkan dan akan sangat berguna! Kapan lagi aku mau belajar menyukai apa yang sebelumnya bahkan nggak aku lirik sama sekali, kalo bukan dengan cara kayak gini dan di waktu ini. Thanks for these chances, all! Thanks, Lord! J




Kamis, 13 Juni 2013

MID-YEAR'S

Rasanya ada yang berat buat nyambangin ruangan ini lagi. Hahaha. However, banyak banget yang pengen dibagi. Mendadak tengah tahun banyak kejadian yang bikin duniaku jungkir balik. Ya, jungkir balik. Tepat persis sama kayak yang pernah aku bilang beberapa waktu lalu. Life is a rollercoaster (indeed!).
Kalo boleh di timeline nih playlist MP3ku sejak akhir bulan Mei, mungkin bakalan banyak melankolis yang sepakat bilang playlistku bagus. Ya, buat mereka! Tapi buat para sanguinis dan koleris, mungkin itu… menjijikkan. Hahaha, oke aku sotoy. K

Awal Juni, sempet ada gempa di kehidupanku. Meskipun aku sok asik, sok kalem, sok stei kul, sok bieasa sajah, well, it wasn’t. J Nothin’s fine. Ya, beruntung sih, meskipun Tuhan menganugerahkan perasaan buat setiap manusia, Dia juga melengkapinya dengan logika. Bersyukur juga karena aku masih bisa make itu logika dan sisa-sisa rasionalitas yang ada. Hahaha. Sebenernyaperlu nggak sih diceritain ini kejadian. Hahaha, yaudahlah, intinya aku turut bersukacita kalo kamu bersukacita. Asli ini bukan kalimat yang jadi dialog di skenario FTV yang diomongin sambil sedih, muka nggak ikhlas, atau bahkan dendam inside. NGGAK. Bersyukur karena di dunia ini masih ada pelajaran hidup yang namanya ‘tahu menempatkan diri’ dan ‘positive thinking’. Ya , bersyukur kalo aku pernah terlibat dalam sekolah kehidupan. Jadi dalam menghadapi fenomena ini, aku memutuskan untuk menggunakan kemampuan dari dua mata pelajaran kehidupan tersebut. Aku tahu siapa aku, siapa dia, siapa mereka. Mungkin analogi yang lumayan deket adalah semacam ini, aku ngefans sama Taylor Lautner. Terus tiba-tiba si Taytay ini in relationship sama seorang gadis. Well, what should I do? Nothin’s. Hahaha, kecuali sebagai fans yang baik, aku berdoa supaya si Taytay bahagia dalam kehidupannya. See? It’s simple, dude! J

Pelan-pelan, kedua pelajaran hidup itu yang justru bikin aku ngremove semua lagu lembek dari playlist MP3ku.  Life goes on. Ya, memang. Ngomong-ngomong nih ya, meskipun kadang rasanya gimana gitu ngeliat ada yang sliwar sliwer di TL twitter. Tapi aku berharap lama-lama pasti bisa kebal lah J Banyak orang-orang di sekitarku yang saying sama aku, nyaranin buat ngeunfollow itu akun. Thanks all, but hey I’m fine. Fine! Besi di apiin, dipukul-pukul, biar dia bisa lebih guna, marmer harus mau disakitin biar dia berbentuk, jadi aku pikir, kenapa harus segitunya ngehindarin hal-hal sepele yang nggak kita sukain. Diakuin atau nggak, manusia memang sering ya kayak gitu, pengennya ngeunfollowin semua yang nggak nyenengin. Ngeunfollow kejujuran, ngeunfollow keikhlasan, ngeunfollow kesedihan. Normal sih sebenarnya, tapi nggak ada salahnya juga kok still following akun-akun pelajaran hidup tersebut. Ya, jadi ini sebagian dari apa yang tengah tahun 2013 berikan padaku. Makasih! :*

Nggak tau ini pelangi sehabis hujan atau apa, yang pasti memang di balik duka itu pasti ada penyembuhnya. Ya walopun tetep lah proses panjang itu sangat dibutuhkan. Kejutan tengah tahun selanjutnya bikin aku keinget pas kecil, tiap abis minum obat, sekalipun manis, aku harus makan permen buat lupa rasa obatnya. Gini juga tengah tahun ini. Abis ‘nelen’ surprise awal Juni, aku dikasih permen sama Tuhan J Rasanya masih kayak mimpi. Ya, kadang kesenangan itu harus ditebus sama air mata dulu kali ya… itu siklus hidup, kan? Hehe

Ya, thanks to Lord for this mid year’s. Terlepas dari doa, harapan, ucapan, dan kado-kado penyambut usia baru yang Tuhan percayakan, ada satu kado spesial dari Tuhan buat tahun ini. Aku percaya ini murni dari Tuhan karena memang itu anugerahnya semata. Haha, tanggal 6 Juni, Tuhan kasih aku kesempatan buat aku nemuin tempat magang yang memang aku pengen banget. Meskipun awalnya desperate. Aku ngajuin magang di tempat ini sejak April, udah kontak terus sama pihak internalnya, tapi udah dua kali juga dipanggil interview dan aku selalu pas ngga bisa ngedatengin. Ya, DUA! Panggilan pertama terlewatkan karena barengan sama UTS, setelahnya aku mohon-mohon buat dipanggil lagi. Well, miracles is all around. Aku dipanggil lagi. Dan kali kedua ini aku ngga bisa datang karena kesalahanku sendiri. Aku telat buka email! HAHAHAHAH! What a life! :”) Yap, bener, tentu aja aku dengan (ke)PD(an) minta dipanggil lagi. Oke, no responses buat waktu yang lumayan lama. Sampe aku balik ngeemail atasannya yang pertama dulu aku kirim email. Nggak berapa lama ada balesan. Abis nego-nego-nego, akhirnya aku dipanggil tanggal 6 Juni kemarin setelah sebelumnya ada screening berkas dan dokumen-dokumen yang mereka mau. Let me say, trust me that miracle is all around indeed! Ya, akhirnya aku diterima magang di tempat itu. Bersyukur banget karena sebelumnya memang banyak yang bilang kalo magang di tempat sejenis biasanya tawaran timingnya yang nggak tepat. Atau susah karena perihal A to Z. Ya, banyak pelajaran hidup memang terbukti teorinya di sini. Salah seorang temen deket yang bisa dibilang tau betapa ngebetnya aku magang di tempat itu sering bilang “Udah, pasti bisa, kalo kita ada pengen, apalagi ditambah usaha, pasti kesampaian kok!”
Bener banget, emang nggak ada yang sia-sia. Waktu interview, sempet berkesan juga sama pertanyaan yang minta aku jelasin gimana aku bisa sampe ke Ibukota itu. Dan Bapak itu pun bilang kalo ternyata emang “sacrifice” itu selalu ada harganya. Setuju. Nggak rugi juga sih sebelum interview bela-belain ke Jakartanya sendirian karena pas kebetulan orang rumah nggak ada yg bisa anter, trus dapet penginapannya di Tangerang, trus pas berangkat interview naxi abis 120 ribu lebih. Hahaha. Thanks, Lord! Thanks, all! Thanks, Embassy of India in Indonesia!


Jadi, pelajaran tengah tahun ini, enjoy aja buat tetep “following”  akun-akun pelajaran hidup yang nggak menyenangkan, dan bahwa setiap perjuangan itu nggak ada yang sia-sia. Nggak ada yang nggak mungkin. Emang harga yang harus dibayar itu ada, tapi percaya kalo give more pasti get more. Ini bukan ngajarin jadi orang pamrih ya, tapi ini lebih ke arah “usaha” J Semua ada masanya, ada masa nangis, seneng, sedih, ngakak. Nikmatin aja karena dalam hal ini, aku juga pengen bilang kalo Like a healer, miracle is all around, believe it! Keajaiban bisa menyembuhkan segala sesuatu, kita cuma perlu ngasih kepercayaan ke dia aja :D




Jumat, 31 Mei 2013

THANKS, TON...

2011.
Pertama kalinya aku ngeliat seorang kamu, yang makin kesini makin semena-mena ngejajah perasaanku. Seorang kamu yang waktu itu nggak aku tau namanya. Kurang ajarnya, sejak pertama kamu jadi objek yang sempet tertangkap lensa mataku, kamu udah ninggalin voucher buat aku penasaran soal seorang 'kakak tingkat peserta school of diplomat yang kemarin nanya. Itu siapa sih?'.
But thanks, kamu sempet tenggelam dan aku ngejalanin kehidupan kampus dengan melupakan penasaran itu. 
As the time goes by...
2013. 
Meskipun sempet beberapa kali aku ngeliat kamu keliaran di kampus. Aku cuma bisa, ‘Kakak itu…’, atau ‘Heh!’ … dalem ati, surely! AJAIB. Suatu siang yang tak disangka, kamu masuk kelas dimana aku ikut mata kuliah itu. Aku nggak terlalu peduli apa materi yang kamu jelasin, meskipun aku berusaha keras buat mahamin, nyatet apa aja yang sekiranya perlu aku catet sebagai jejak kuliah hari itu. And… what the hell was… setelah selesai kuliah, aku baru sadar aku masih belum tau namamu! LOL. Entah gila atau apa, dengan sok asik aku nanya sama salah seorang temen sekelas yang aku pertimbangin dia nggak akan comel dan mencurigai aku macam-macam. Guess what!? Ya, akhirnya aku tau namamu. Parahnya, beberapa minggu kemudian seorang ‘sahabat’ pamer bahwa dia mendapatkan kontak BBM-mu. Sempet kepikir banget  pengen minta. Setelah aku pikir2 lagi. Aku nggak yakin berani add dan BBM duluan. Jadi buat apa? Hahaha. Setelahnya, aku lupa gimana perasaanku sampai akhirnya nekatku terekskalasi jadi aksi ‘add kontak BBM mu’! GREAT! Beberapa hari setelah kamu terima permintaan kontak dari aku, tetep nggak ada keberanian buat mulai obrolan. Sampe akhirnya, di 18 April, aku beraniin mulai obrolan bertopik magang. Menurutku, kamu emang tempat yang bener juga sih memang buat nanya-nanya :)
18 April.
Hari pertama aku bisa berkomunikasi sama seorang kamu yang kemudian aku semakin yakin betapa (MEMANG) mengagumkannya kamu dan isi otakmu, as I saw you at the time. I’ve guessed! Kalo sebelum tanggal ini aku cuma baca-baca tentang mitologi Yunani karena sekedar pengen tau, maka setelah hari itu, aku mulai download banyak bacaan tentang mitologi, follow in akun twitter pecinta mitologi, cariin e-book tentang mitologi. Aneh, ya? Iya. Gila? Maybe. Meskipun aku nggak bener2 paham soal mitologi dari bulu sampe sumsumnya, kayak kamu, tapi seenggaknya ada yang nambah di diriku :) Thanks!
Terlepas dari seringnya aku mendadak pusing, sakit perut, dan mendadak parkinson temporal, aku semakin sering juga nekat BBM-in kamu duluan meskipun selalu sakit perut dulu, dan mikirnya udah kayak ngerjain soal quiz di kelas. Tiap kamu bales, aku bisa jingkrak-jingkrak dimana aja. Senyum sampe ketawa nggak jelas di kerumunan kantin, udah pernah juga kejadian sama aku :”)
18, 19, 20, 21, 22, 23, 24 April.
Aku mulai setiap obrolan BBM dengan penuh kebandelan. Meskipun selalunya aku capek dan kadang desperate karena harus ‘mulai’ obrolan duluan, dan ‘helooooo, siape gue?!’ kalo sampe ngarep kamu tiba2 BBM duluan. Hahaha :”D sampe akhirnya….
25 April. 
Sore hari seingetku, aku terlonjak dari tidur siangku demi BBM dari kamu (untuk pertama kalinya). Nggak cukup buat diceritain betapa gila dan senengnya aku waktu itu. Kamu ngomongin soal 'nama'ku. Aku nggak peduli kalo sebenernya itu biasa dan wajar aja kalo kamu tau soal namaku (secara kamu kan pinter dan banyak tau), tapi aku seneng dan bangga banget! Ah, what a life, eh? Hari itu juga kamu sendiri yang nerangin ke aku soal namamu berikut maknanya :))
26, 27, 28 April. 
aku masih jadi pelopor obrolan BBM  kita. Surely!

MEI.
5, 6 Mei.
Still being 'AS ALWAYS' type of conversations.
7 Mei.
Aku ketauan ngecrop salah satu fotomu (yang aku simpen diem2 dari berbagai sumber) yang aku jadiin display picture BBM. Maaf, ya. Aku juga nyesel buat kenekatanku yang ‘so freak’ saat itu. Setelah hari itu, aku stress, aku ngerasa kamu pasti udah ilfil tingkat dewa-dewa Olympus ke aku. Sampe dua hari aku nggak berani pasang display picture. Dan sampe tanggal 10 aku masih selalu ngecek kontak kamu, mastiin aku nggak di – delcont. :”)
10 Mei.
Aku beraniin BBM buat ngomongin soal laut. Kejadian yang nimpa temenku bikin aku jadi ngeri keinget kamu yang cinta banget sama laut. Meskipun menurutku balesanmu waktu itu ‘so flat’. Aku nggak peduli, Yang penting maksudku buat ngingetin kamu tersampaikan.
11, 13, 15, 19, 20, 25, 28, 30 Mei.
Aku masih jadi ‘zipora’ yang kadang nggak aku kenal. Dimana gengsi yang selalu bikin aku males mulai ngontak duluan para kaum adam? (Kecuali buat urusan tugas dan seputar kegiatan kampus ya) :”) Kamu bisa bikin aku ngacuhin gengsiku, Ton… :”)

Sejak kesempatan pertama kita ngobrol via BBM, aku ngerasa banyak efek (terlepas dari kamu tau ato nggak) aku dapet dari kamu. Tiap buka twitter, secara otomatis di kolom ‘search’ udah terpampang rapi ID twittermu. Ya, aku kepo banget ya emang.. :’)
Aku perlahan berasa disulap, suka dengerin Pumped Up Kicks-nya Foster the People, suka beli Oreo, Happytos, dan sempet heboh gara-gara ngidam beli Nutella di Malang, suka ‘berusaha’ bangun pagi. Kadang aku nanya sendiri, ‘siapa ini?’ Tapi aku bersyukur karena toh nggak ada efek buruk dari semua itu :”) 
(Meskipun kadang aku beli Oreo dan Happytos-nya tanpa tujuan. Sekedar masuk Indomaret trus automatically jalan ke deretan rak Oreo dan Happytos, trus pas udah keluar dari Indomaret baru nyadar ‘Oh, aku beli ini, ya?’) Hahaha…
Ohya, aku juga yang awalnya nggak pengen lanjut S2 dalam waktu deket2 setelah wisuda besok, ternyata jadi pengen ngelanjut S2. Haha.

Menjelang Juni…
Aku kadang ngarep semua kalender mendadak ilang dari muka bumi ini. Atau.. bulannya diputer balik ke April. Biar kamu nggak usah pulang. Nggak apa-apa deh kalo Juni bisa ilang, meskipun itu artinya aku nggak ulang tahun :”D
Tapi aku sering ngerasa, kamu memang udah waktunya pulang ke rumah. Puas-puasin waktu di rumah, ngerayain 22 Juli-mu bareng keluarga dan temen-temen kesayanganmu di sana, sebelum nanti harus pergi lagi buat ngejar mimpi besarmu :)
Ya, walopun selalu (….)*absurd* ngingetnya, tapi ya memang ini… ya, ini. Kamu dan duniamu, aku dan duniaku di balik punggungmu. Meskipun abis ini mungkin nggak ada lagi yang bisa aku intip-intipin di ruang baca, nggak ada lagi punggung yang diem-diem aku liatin tanpa kedip sampe beberapa menit, nggak ada lagi yang aku liat (diem2) lagi serius banget ngadep leptopnya, tapi nggak apa-apa :)
Mungkin akhir-akhir ini aku belum sampe hati buat makan Oreo-oreo dan happytos yang aku beli, belum sampe hati juga buat ngedengerin Pumped Up Kicks lagi, tapi aku tetep bakal berusaha bangun pagi, semangat ngerjain tugas biar kuliah cepet kelar dan bisa cepet ambil S2 :) Nggak tau kapan bisa lively liat kamu lagi, yang pasti sukses terus ya buat kamu, setiap cita-citamu, dan dimudahkan jalanmu buat meraih apa yang kamu doakan atas masa depanmu. Aku masih boleh kan ya ngefans sama kamu? (ya, mungkin sampe kamu nemuin Athena- mu lah..) :)
Sebenernya ini hari terakhir aku bisa ngeliat kamu di kelas, tapi lebih baik emang aku nggak liat aja kali ya.. :"D
Ya udahlah, dari kemarin aku sedih tiap inget hari Jumat ini (berlebihan ya?), aku cuma bisa pasang fotomu jadi display picture BBM. Jangan ilfil ya...
Erebus, Hypnos, Nyx, D’ Lyre, Triton, tolong sampein makasihhhh buanyaaaakkkk dan salamku ke yang punya kalian ya… :)
Thanks, Ton!

To :
Triton on my BBM Contact | Taylor Lautner on my own version :p




Minggu, 28 April 2013

"IF ONLY"

"If Only"

Kedengerannya nyesel ya? Iya. :’)

Kadang aku nggak habis pikir sama hidup ini. Setauku ini semua hanya seperti siklus yang melelahkan. Setauku juga, di dalam siklus itu juga aku selalu bekutat pada lingkaran yang salah untuk punya perasaan bodoh semacam ini. Tergila-gila pada orang yang entah kenapa, bisa dikatakan salah atau lebih tepatnya ‘tidak seharusnya’! Aku punya segudang teman lucu, baik, bodoh, pintar, suka berdebat, suka olahraga, kritis, jorok, kasar, pelit, cool, perhatian dan seiman. Tapi kenapa dari sekian banyak kategori, seandainya aku memilih, tidak ada seorangpun yang bisa membuat aku segila ini?! Justru kegilaan itu sumbernya dari kamu! Iya, kamu, Triton, Putra Poseidon, kakak tingkat yang hanya karena ia mengangkat tangan untuk melontarkan pertanyaan dalam sebuah diskusi sekolah diplomat- langsung mencuri perhatian, dan manusia yang belum ada sebulan ini aku berhasil mendapatkan pin BBnya.

Aku tidak tahu kesalahan ada di pihak mana dan bersumber dari siapa. Atau bahkan aku tidak tahu apakah ini benar bisa dikatakan sebagai sebuah kesalahan atau bukan. Yang aku tahu, akhir-akhir ini - seolah semesta memberikan jalan untuk ‘perhatian’ yang pernah tersita tahun 2011 lalu, untuk kembali muncul ke permukaan, dan kembali tersita tentunya!
Kamu memang sebenarnya tidak perlu tau betapa gilanya aku setiap hari, yang ingin selalu tau apa yang kamu lakukan, bagaimana harimu, apa saja yang kamu alami. Kemudian aku harus mencukupkan diri hanya dengan melongok timeline twittermu. Atau kemudian jika aku berani mengabaikan tantangan sakit perut dan pusing mendadak, aku memberanikan untuk memulai obrolan di BBM. Ini harus selalu ditebus dengan gelisah tak terjelaskan, antara takut dan senang. Aku senang karena aku bisa menikmati setiap cerita yang kamu bagikan. Dan aku selalu takut dari usainya semua itu. Bagaimanapun aku harus tahu diri. J
Tentu kamu juga tidak pernah tahu bahwa di sisi lain aku selalu menyesal dan membenci diriku sendiri. Kenapa aku harus melonjak senang ketika kamu membalas BBM, tapi juga kemudian gusar karena aku selalu mengawali semua obrolah kita. (Seingatku hanya ada satu topik dimana kamu memulai lebih dulu – tentang nama – dan betapa semakin gila aku setelahnya!) Yayaya, apalagi jika bukan ‘aku harus tau diri’ dan ‘siape gue siape lo’. Setidaknya 2 kalimat itu yang selalu mengkompensasi kegusaran untuk rasa lelah menjadi pihak yang seolah harus mengejar. Maaf, aku tidak pernah bermaksud mengejar. Aku hanya ingin tau banyak tentangmu. Konyol? Memang.

Tentunya kamu juga tidak tau bahwa hingga detik aku mengetik huruf-huruf ini, aku sangat senang karena sudah memiliki 48 foto Triton. Fotomu. Foto yang terakhir aku simpan ‘diam-diam’ (jika tidak ingin dikatakan mencuri), mungkin foto yang diambil di waterboom. Ya, hari ini kamu menikmati water day, kan? Hahaha. Seharian ini juga aku terus mengintip Recent Updates di BBM. Berharap bisa menemukanmu membuat status atau sekedar mengganti display picture.

Untuk mengalihkan perhatian karena gilaku atas candu perasaan ini, hari ini aku juga mengontak semua teman-teman facebook, twitter, dan BBM. Untuk apa?  Tentu saja untuk bertanya pada mereka, satu-persatu dengan mengirimkan pesan yang sama;
“Pagi, (A / B/ C/ Beli/ Mbok), boleh nanya dong, tau tempat jual leg rope second (yang bagus tapi harga bersahabat) di sekitar Badung, nggak? Please infonya ya kalo tau. Makasih :D”
Malam sebelumnya, aku membuat broadcast message yang dengan hati-hati aku kirim ke setiap kontak BBM yang telah aku pilah, untuk memastikan bukan kamu atau orang yang berpotensi membaca status twittermu tentang leg rope Triton. Belum cukup disitu, entah dimana ujungnya, yang jelas aku juga merasa konyol ketika kemudian aku mulai mencari informasi di internet. Aku menemukan salah satu website yang menjual leg rope dengan diskon yang sangat besar, meskipun itu bukan Rip Curl seperti yang awalnya kamu buru. Tapi menurutku, setidaknya ini lebih baik daripada kamu harus membeli secondhand stuff. Dan konyolnya lagi, tiba-tiba aku ngeri ketika membayangkan kamu salah membeli leg rope yang justru kemudian membahayakanmu. Pada akhirnya aku ragu untuk menunjukkan hasil pencarianku hari ini untuk Tritonmu.

Damn, i hate to be like this. I do hate these madness thogh I always enjoy every stupidity that i did from those madness.
Kamu. Rasanya tidak mungkin, dan rasanya tidak seharusnya aku seperti ini. Aku berharap bisa mundur perlahan (atau secepatnya) atas perasaan ini ketika aku berpikir bahwa kamu masih mencintai dia. The last girl you date. Atau, kamu masih punya kenangan tidak mengenakkan tentang dia dan hubungan kalian. Aku dengar kalian sudah putus. Tapi sepertinya kamu masih menyimpan banyak hal dari hubungan kalian. Aku tidak tau ini insting, intuisi, atau ngawurising dan sotoyisi. Tapi ini hasil kesimpulanku dari pengamatan rutin pada timeline twittermu. Asal tau saja, aku berharap semua ini salah. :’) Secara implisit kamu menulis status yang tentu masih berbau isi hatimu atas dia, pacarmu entah mantan pacarmu. Aku berani menyimpulkan pengalaman tidak mengenakkan itu juga dari kesarkasanmu yang tersirat pada status twitter yang menunjukkan tuduhan negatif untuk istri masa depanmu. Kalimat :
“Wondering...Kalo aku ntar pas udah nikah trus mati, kecelakaan gitu, istriku bakal gimana ya...”
KEMUDIAN...
“Paling ketawa ngakak terus nyari suami baru...*snort”
Keduanya seolah sama-sama menyiratkan ketidakpercayaanmu pada keberadaan kasih tulus yang akan dianugerahkan buatmu kelak. Ironis! Entah bodoh atau konyol. Mana ada seorang istri ditinggal mati suaminya dan kemudian melakukan hal setidakmanusiawi itu. Seandainya aku punya kapasitas untuk mengingatkanmu bahwa ketika kamu disakiti oleh seseorang, bukan berarti semua makhluk yang hidup di muka bumi ini dan disebut orang, akan menyakitimu. Tapi aku sendiri merasa berpotensi mendapat efek mirror image jika seandainya aku benar bisa mengatakan itu padamu. Faktanya aku pernah berada di posisi itu.
Intinya, aku tidak tau darimana semua kegilaan, kekonyolan, dan keanehan ini berasal, dan bagaimana serta kapan aku harus mengakhirinya. Yang pasti aku bersyukur meskipun semua rasa berharga ini harus disimpan dalam gema kesunyian :’)

Yang pasti juga, aku tidak berharap lagu sialan ini benar-benar terjadi di hidupku!


 I thought it wasn't wrong, To hide from you, Simple truth.

I was scared, I felt it all along, But it hurt to much for me, to share.

If Only I, had been less blind. I'd have someone to hold on to. If Only I, could change your mind,
If Only I had known, If Only I had you...

Finally understand, Why things have happened, And how it all could go so wrong.
Will this pain ever end? 'cause I don't think I can carry on.

If Only I, had been less blind. I'd have someone to hold on to.
If Only I, could have spoke my mind, If Only it were true, We could start brand-new
I know I'll make it through
If Only I had you
If Only I had you
If Only I had you

"IF ONLY"....




Sabtu, 27 April 2013

Life is a Rollercoaster and You’re a Tornado


Kata Ronan Keating, “Life is a rollercoaster, Just gotta ride it”

Indahnya hidup, seandainya sesimple itu. Ahya, hidup memang simple sih sebenernya. Tapi setidaknya hidup itu cukup rumit pada kenyataannya J Ya terserah sih, lagipula hidup itu kan tentang ‘kacamata’ apa yang sedang kita pakai :D

Setidaknya ketika Ronan Keating bikin lagu ini, bukan ngasal yang penting unik gitu ya. Setidaknya menurutku, dia nggak cuma nyanyiin, dia juga ciptain, maka logis banget kalo kalimat itu bisa dibilang sebagai karya yang ga jauh-jauh dari pengalaman hidupnya. Entah dari melihat, mendengar, mengamati atau even itu wahyu dari alam semesta. Jadi memang hidup itu rollercoaster. Kita bisa ketawa, nangis, atau bahkan jetlag sampe pucat dan sakit pas naik. Banyak sensasi, banyak rasa, banyak pikiran jelek (terlebih lagi kalo orangnya parno-an trus kebanyakan nonton film Final Destination). Begitu juga hidup yang hidup. Pasti banyak kejadian ini itu, rasa ini itu. Beda juga, kan, ketika kita naik rollercoaster, tapi mesinnya mati. See?
Begitu juga yang aku rasain akhir-akhir ini. Rollercoaster yang sedang aku naiki ini mendadak ngebuat aku ngerasa kalo ini bagian dimana rollercoasterku sedang pada tempo yang unpredictable, full of surprise, daaann... bikin jetlag  sana sini. Mulai dari ditunjuknya aku buat maju semmas di pertemuan pertama sejak UTS. Plisss.. aku sempet ngerasa dosennya mau kasih aku pelajaran karena selama ngerjain, aku cuma konsul 2x dengan dua judul yang beda. Trus pas ngumpulin aku balik ke judul pertama yang aku ganti scope topik dan teorinya. Hahaha. Otomatis jetlag, stressss, dan nggak ada ketawa tulus selama hari-hari penantian eksekusi itu. Ditambah lagi, pas hari aku harus diadili dan mempertanggungjawabkan tulisanku, salah seorang penyanggah yang sudah dosen hadiahkan untukku ternyata nggak masuk, sodara-sodara!
Pasalnya dia telat dan peraturannya memang kalo telat ngga ada lisensi masuk kelas. Tidak berhenti di situ, jetlag terus terekskalasi ketika akhirnya dosenku dengan manis menawarkan diri untuk menggantikan peran penyanggah yang malang itu :’) Oh, aku berharap rollercoasterku berhenti saat itu juga biar aku bisa turun aja sebelum semua isi perutku keluar secara tak beradab -__-

Akhirnya dengan mencoba berlapang dada dan mengandalkan belas kasih sang Mukhalis, aku maju juga demi masa depan. Hahaha. Setelah mual selama beberapa puluh menit dan berdiri di depan para hakim mulia tersebut, akupun bisa tertawa senang karena meskipun aku harus memilih antara memperbaiki rumusan masalah atau mengganti teori, dosen bilang bahwa presentasi itu bisa membuat kelas hidup, aku banyak mendapat masukan *peluk dosen dan teman* Juga dosen yang berkata bahwa 3 presenter pertama ini merupakan 3 tulisan yang punya nilai lebih di kelas (pada saat itu, aku pun nggak peduli lebih. Yang aku tau, curiga berlebihku tentang dendam dosen karena aku nggak pernah konsul sirna  sudah. So sorry, dear Ma’am! ). Pada titik itu, aku sadar bahwa rollercoasterku sedang menyajikan babak kesenangan dalam permainan ini :D – kejadian ini berputar di hari Senin.

Hari selanjutnya, aku ngerasa hentakan rollercoaster yang lain. Kali ini berkaitan dengan pribadi yang terhitung sejak pertama aku berani mengontaknya, aku mulai semakin gila. Terhitung 9 hari hingga hari ini J Sejak 9 hari yang lalu dengan tangan dingin dan pertimbangan sejuta tahun cahaya, aku memulai interaksi di kontak BBM. Hahaha, konyol! Inget banget, padahal waktu itu cuma pengen tanya soal magang, dan plissss, gugupnya kebangetan. Nggak kebayang kalo nanya langsung K hahaha

Singkat cerita, setelah mendapat respon baik, aku semakin berani KEPO dimana-mana. Kalo dulu, sejak pertama kali ketemu, ngefans, dan aku PD banget nyari namanya di Google (dan nggak dapet hasil apa2 karena aku cuma tau nama panggilannya—itupun nanya temen!). Sekarang ada kemajuan, aku BBMan, aku ngobrak abrik twitter Himahi berharap dia pernah dimention (dan berharap ID twitternya masih pake namanya). Daaaaann... guess what! I found him! (backsound : We are the Champion) :p
Sejak itu aku rajin banget buka timeline nya, sampe2 kalo udah masuk ke ‘search’, namanya udah terpampang rapi secara otomatis. Hahaha. Misi kepo terus berlanjut sampe ke peradaban FB yang bikin aku ngesave 45 fotonya. And surpriseeeee! Ada foto mbak2 cantik di timeline photonya. Haha. Awalnya aku nggak peduli banget sih. Cuma penasaran aja. Tapi tiba2 jadi sakit perut juga pas aku tau dia ngobrol sama temen2nya di twitter. Malangnya, emang dasar dari awal udah ngerasa ‘insecure’ sejak lihat foto itu, ditambah obrolan twitter yang membuat aku menyimpulkan bahwa dia dan hatinya sudah ada yang memiliki. Saat itu juga aku merasa rollercoaster ini berhenti mendadak. Aku sakit perut nggak jelas tiap inget. Hahaha (diakui saja, ini berlebihan, tapi bukan berarti nggak pernah terjadi dan hanya fiktif belaka J). Maka kuputuskan untuk berhenti mengaguminya lebih jauh. Hahaha. Unfortunately, aku tetep aja kepo twitter, FB, PM BBM, dan tetep juga ngeliat2 fotonya yang khusus aku folderin atas nama Poseidon’s, dan nama foto Triton 1 hingga Triton 45. Hahaha. Aku memang bandel :’)

Di sisi lain, aku sudah memperingatkan diri sendiri untuk berhenti bersikap bodoh, konyol, dan segila itu. Tapi aku menulikan nurani. Aku terlalu bebal untuk menjadi sepenurut itu :p Kemudian sampailah dimana aku merasa perlu lebih tegas pada diri sendiri. Mengingatkan nurani bahwa aku tidak perlu merubah diri untuk hal ini. Aku tidak pernah ingin menjadi wanita agresif untuk menunjukkan perasaan. Aku juga mengingatkan diriku bahwa sejauh ini akulah yang banyak bertanya, menyapa dan mengontak. Ouch! Tidak butuh puluhan menit untuk kemudian aku merasa (harus) runtuh dan berhenti dari semua ini. Solusi terbaik adalah TIDUR (setidaknya daripada bercengeng2 ria)! Dan kejutan datang di kamis sore pukul 04.06pm menurut waktu BBM kala itu. Aku yang tadinya bermalas2an bangun, segera terlonjak demi melihat beberapa pesan BBM baru yang salah satunya berasal dari “Triton” (Ya, aku mengganti sendiri Display Namenya :D). BBM itu membahas tentang namaku. Aku tidak peduli saat itu dia hanya iseng, kurang kerjaan, atau sedang tidak ada ide untuk menghubungi siapapun, yang pasti perutku terlonjak hingga ke paru-paru rasanya. Persis rollercoaster yang mendadak melambung ke atas. Beberapa menit setelahnya aku linglung dan tidak tahu apa yang sedang dan akan aku lakukan. Konyol! Haha

Dia tahu arti namaku, berikut filosofinya!!!!!!!! Karena hidup ini rollercoaster, maka saat itu, dia adalah Tornado bagiku. Hahaha :p

Guess what, beberapa hari sebelumnya aku sempat browsing arti namanya walaupun pada akhirnya aku bingung dan akhirnya aku mendapatkan penjelasan langsung dari sang Pemiliknya sendiri :D
Ah, rollercoaster ini! Yang awalnya aku merasa harus berhenti dari kekonyolanku karena menggilainya, merasa bahwa hidupku harus kembali normal, kemudian aku dihentakkan untuk kembali bebal mengidolakannya :D Life is a rollercoaster, and you, Triton, Prince of Sea Kingdom, you’re a Tornado! J





Kamis, 25 April 2013

KEMBALI NORMAL

Setelah beberapa ratus jam, puluhan ribu menit, puluhan juta detik...

Siapa tahan hidup dalam ketidakpastian, kegamangan yang sebenarnya tercipta sendiri karena kadang manusia memang tak sadar apa yang 'benar' diinginkannya. Kondisi dimana diri sendiri bahkan tak sudi untuk diselami dan dikenal baik sebagai teman akal sehat yang masih tersisa. Hahaha
Ada kalanya memang perasaan sejenis itu muncul karena dalam menyadari sebuah keinginan, tidak terjadi sinkronisasi yang bersinergi antara hati, akal sehat, dan daya. Dimana hanya ada prestasi sebatas 'tahu' apa yang menjadi keinginanmu. Sementara tarik ulur antara idealisme dan realisme terus bergemuruh menyesak hati dan pikiran.
Aku merasakannya belakangan ini. Aku tahu apa yang menjadi kehendak hatiku. Tapi aku ragu. Maksud hati dan akal sehat bersama rasionalitas beradu. Tidak setuju.
Namun sekarang setelah aku belajar dari segala ketidakpastian yang bersedia untuk lebih bersahabat, aku tahu aku banyak belajar dari sebuah perasaan yang tidak dapat dengan akurat dipastikan penjelasan pertanggungjawabannya. Seingatku, ini bisa menjadi arena baru untuk belajar tentang perbedaan. Dari perbedaan yang membebani, aku mendengar sebagian hatiku meyetujui kalimat; "Bagaimana mungkin sebuah kapal dengan dua nahkoda yang sama-sama memegang kendali?"
Kemudian sebagian kebebalanku bepihak pada kalimat sejenis "Impossible is nothin. Kalo memang kamu niat, dijalanin aja dulu. Pasti bakal ada jalannya nanti"
Terlepas dari konflik pribadi tentang sebuah perbedaan, bahwa perasaan ini memang melibatkan banyak pertimbangan untuk aku berani mengembangkannya menjadi perasaan yang lebih serius. Ternyata ada juga pribadi lain yang menginginkan dia, Triton. Kita berteman akrab. Bersyukurlah aku karena sesungguhnya mereka lebih cocok. Aku lebih punya alasan masuk akal dan nyata untuk mengendalikan perasaan ini. Perasaan konyol dan tolol ini. Pada akhirnya, kerumitan dari semua ini berekskalasi menjadi kegusaran karena tetap saja ini adalah tentang ketidakpastian. Bukan pada siapa-siapa. Ini tentang aku, diriku sendiri, dan keberanianku. Bodoh. Sejak kapan aku masuk ke dalam front manusia-manusia yang dengan berani secara nyata memperjuangkan perasaannya? Sejak kapan aku menjadi pribadi yang semasuk akal itu?
Cukuplah tahu, Ini adalah tentang aku dan keabsurdan. Aku hanya punya rasa, tanpa keberanian. Aku hanya punya rasa, tanpa rasionalitas. Hanya sesedarhana aku, triton, dan apa mauku (sebenarnya). Tapi lagi-lagi. Aku bahkan tidak tahu mauku atas semua ini. Dan, lagi-lagi aku merasa harus tahu diri atas perbedaan antara kenyataan dan seharusnya.
Di antara aku dan raguku, ada kesadaran bahwa aku sedang tidak menjadi diri sendiri untuk keinginan ini. Memulai SEGALA SESUATU lebih dulu- bukan aku. Selalu mencari lebih dulu- bukan aku. BUKAN AKU! Aku rasa, aku berhak menjadi diri sendiri untuk mendapatkan apa yang aku inginkan :) Bukan menjadi orang lain sebagai legitimasi dari usaha untuk mencapai keinginan. Uniknya, sejauh ini aku berterimakasih untuk mengenalkanku pada dunia menyenangkan yang sebelumnya belum pernah kutemukan di kotak kehidupan siapapun.
Triton, Hypnos, Erebus, dan Nyx. Bahwa ada juga pribadi yang memilih Athena daripada Aphrodite, dan berharap Poseidon melindunginya :)
Nice to meet you...

Aku sendiri masih tidak sepenuhnya tahu, juga tidak sepenuhnya ingin menyadari bahwa sudah saatnya wacana tentang keinginan ini ditegaskan. Bahwa memang seharusnya hanya ada rasa mengagumi buatmu. Tidak lebih dari itu. Seharusnya. Ya,seharusnya. Semoga "dia" yang kamu maksud di kalimat "wait till she reads this tomorrow morning... " adalah memang manusia yang semakin membuatku sadar bahwa ini hanya sebatas keinginan konyol yang mengabaikan sejuta alarm yang sejauh ini sudah memperingatkanku tentang perbedaan itu, tentang persahabatan yang lebih berharga, tentang menjadi diri sendiri dalam upaya memperoleh sesuatu dan tentang rasionalitas! Semoga.
But somehow, very nice to meet you, T! 

Karena aku telah tahu "dia" yang di hidupmu. Aku berharap hiduku, cara pandang dan lakuku bisa kembali normal. Sedikit lebih waras setidaknya. :)