Selasa, 21 Januari 2014

ENJOYING STRAWBERRY SUNDAE (Do and Don’t)

Siapa sih yang nggak kenal STRAWBERRY SUNDAE, hari gini? Lebih manis dari lesung pipinya Afghan, lebih lembut dari suaranya Celine Dion, lebih dingin dari air mendidih (kayaknya emang gitu sih), dan yang pasti lebih asik dijadiin temen daripada cabe-cabean. Secara ya, sebelum si cabe-cabean itu terkenal, Sundae udah eksis lebih dulu. Apalagi si cabe-cabean ini eksisnya dengan cara yang lebay, cenderung norak dan… oke, bahasan ini kayaknya udah mulai out of topic. Ah, ya, tadi yang kita mau bahas adalah sundae-sundaean. Dia ini bukan spesies burung, genre musik, atau nama pakaian adat. Yup, Sundae adalah salah satu nama hari. (Sunday kelesss! -___-)
Kalo kita mampir ke sebuah tempat yang didominasi warna merah dengan inisial huruf M yang warnanya kuning, atau warung yang sok cool ngasih tau namanya pake inisial couple A&W, yang belakangan aku sempet mikir sebenernya itu warung pake inisial nama foundernya, which is Asep&Wakimin. Nah, kedua tempat itu punya menu yang selalu mencuri perhatian, bahkan denger-denger saking seringnya mencuri, dia sempet ditimpukin orang se-mall, dilaporin rektor, trus kena DO. Oke, ngelantur. 
Jadi Sundae ini emang es krim favoritku. Dia itu menu yang selalu bisa menimbulkan kontroversi hati. Misalnya, ketika jam 9 malem udah bukan waktunya mengkonsumsi makanan atau minuman berkalori tinggi, tapi kalo ada Sundae apalagi strawberry, rasanya udah nggak kenal lagi sama yang namanya kalori. Belum lagi kalo lagi jalan ke mall dan niatnya makan, trus ngelewatin booth yang jual Sundae strawberry, mau nggak mau tetep aja belok dan kemudian ngebeli Sundae yang berakibat menunda jam makan yang harusnya segera direalisasi. Nah, itu hanya sebagian alasan mungil yang menunjukkan dahsyatnya daya pesona Sundae (khususnya buatku. Hahaha).
Sebenernya mungkin kalian udah siap-siap pengen kirim santet ke siapa yang bikin tulisan ini. Tapi sebelum nyari dukun terjitu, ijinkanlah saya menjelaskan 10 alasan pembuatan tulisan ini :D Yang pertama, tentu saja karena aku pecinta Sundae strawberry. Alasan kedua sampai ke Sembilan, adalah karena aku suka banget sama Sundae strawberry, kemudian alasan terakhir adalah karena suatu ketika aku menikmati Sundae sebelum masuk Gramedia. Trus aku tiba-tiba pengen nyari novel yang covernya Strawberry Sunday. Oke, biar aku perjelas. Jadi selama berada di Gramedia, aku ngerasa menara Eiffel emang lagi ngetren banget, mungkin itulah alasan kenapa bejibun banget buku di Gramed yang covernya pake gambar salah satu simbol Perancis yang eksotis itu. Dengan iseng aku menebak bahwa pasti itu ditulis oleh orang-orang yang punya ketertarikan sama Eiffel. Nah, aku pun kemudian berpikir, kenapa aku nggak nyoba aja bikin buku yang covernya Sundae strawberry. Padahal jelas-jelas aku punya ketertarikan khusus padanya. Tapi kemudian aku mikir juga, apa yang bakal aku tulis dari Sundae strawberry? Kalo kisah cinta-cintaan yang berasal dari segelas Sundae, rasanya udah klise. Fixed, FTV banget. Atau nulis soal resep membuat aneka Sundae? Oke, ide bagus. Permasalahnnya adalah topik yang kemudian melebar. Seperti yang udah dijelasin. Aku cuma tertarik sama Sundae strawberry. Selain itu aku cuma tertarik buat menikmati, dan bukan how to make it. Aku sadar betul akan kemampuan dunia dapurku. Hahaha
Maka akhirnya, munculah ke-absurd-an ini! Yaaayyy!! *nyalain sirine ambulans*
Jadi langsung ke bahasan aja ya, kelamaan kalo pake rumusan masalah, studi terdahulu, kajian konsep, dan hipotesis J
Apa saja yang perlu diperhatikan dalam menikmati Sundae strawberry? Mungkin pertanyaan ini bisa dijawab bahkan ketika kamu sedang konsentrasi ngelupain mantan, tapi nggak ada salahnya kan kalo sebagai teman yang baik aku berbagi. Ikuti aku ya, pemirsa ;;) (Pinjem gaya Nikita Willy pas mau baksos ke panti asuhan sambil ngajakin sebatalyon paparazzi)

  1. Ketika kamu berniat membeli Sundae strawberry, pastikan kamu sedang berada di area yang tepat. Karena sungguh tidak lucu adalah ketika kamu lagi KKN di pedalaman New Guinea tapi maksain beli Sundae. Karena selain jaringan buat nelpon 14045nya bakal susah, kesian juga mas nya yang mau deliveryin karena Sundae strawberry nya pasti keburu jadi Sundae kelapa waktu nyampe di tanganmu (Syukur-syukur nyampe sih).
  2. Ketika kamu memutuskan untuk beli di tempat, pastikan kamu bawa duit buat bayar. Jangan bawa stok mie instan di kosan yang kamu niatin buat dibarterin sama Sundae strawberry. Selain bikin ilfil, plis kamu pahamin kalo ini udah 2014, bukan jaman baheula ketika barter masih relevan.
  3. Sebelum menikmati Sundae strawberry, ada baiknya kamu beneran tahu yang mana itu Sundae strawberry. Hal ini bisa menghindarkan kamu dari salah paham atau aksi pembodohan dari karyawannya. Kalo misal kamu disodorin segelas minuman dingin berwarna coklat, encer, dan beraroma melati. Sudah pasti itu es teh dan bukan Sundae strawberry. Segera kembalikan. Tapi inget ya, tetep jaga sopan santun. Jangan ngembaliin dengan cara menyiramkan isi gelas itu ke karyawannya. 
  4. Ada yang bilang kalo tingkat keenakan makanan dan minuman yang ada di depan kita berkorelasi dengan siapa kita menikmati makanan atau minuman itu. Jadi ketika kamu ingin menikmati Sundae strawberry, pastikan kamu sedang menikmatinya dengan orang yang tepat. Hindari makan es krim di sela-sela peristiwa kebakaran suatu pasar. Jangan coba-coba juga buat makan Sundae di depan mantan yang jalan sama pacar barunya. Karena jelas-jelas itu mengurangi tingkat kenikmatan hingga 180°.
  5. Selain memperhatikan dengan siapa kita menikmati Sundae strawberry itu. Perhatikan juga ketepatan tempat untuk menikmati. Ini tidak kalah penting untuk mempertahankan cita rasa Sundae strawberry yang luar biasa. Usahakan jangan memakan Sundae pada saat presentasi seminar proposal skripsi. Atau jangan makan Sundae di bawah rinai hujan. Mungkin itu so sweet, apalagi kalo sama doi. Tapi ketahuilah bahwa Sundae strawberry yang dicampur air hujan itu nggak beda sama air keran dicampur sama air mata. Sama-sama nggak jelas.
  6. Kalo kamu seorang traveler dan pecinta Sundae strawberry, kamu tentu berharap tetap bisa ketemu Sundae strawberry di tempat destinasi pelanconganmu. Untuk itu, aku nggak saranin kamu untuk melancong ke neraka, Sabuk Saturnus, matahari, Gurun Sahara atau Black Hole. Karena dijamin nggak ada yang keep survive buat jual Sundae strawberry di sana.
  7. Untuk menikmati Sundae strawberry yang asik, perhatikan metode untuk menikmatinya setelah gelas Sundae strawberry beralih tangan dari mas/ mbak penjualnya. Pastikan mereka memberimu sendok dan bukan sekop. Sekali lagi ingat, itu Sundae strawberry, bukan adonan semen dan pasir.
Nah, gimana, udah paham sama beberapa panduan do and don’t  dalam menikmati Strawberry Sundae, kan? Bagus. Selamat menikmati… (menikmati rasa gondok ke penulis). Kalo ada yang mau traktir, jangan sungkan-sungkan ya.. See you on Sundae at Strawberry J Mumumuuu~

Ini dia si Strawberry Sunday dari ordo A&W. Ada lagi yang lebih oke sebenernya dari ordo "M".
Tapi pas pemotretan si Sundae dari ordo "M" nya lagi berhalangan hadir.  



Kamis, 09 Januari 2014

"MANNA". Don't "MANA?"

Bersyukur pagi ini tetiba kebangun buat doa pagi lagi. Walaupun awalnya setengah hati tapi akhirnya berhasil dibikin melek karena keder disindir sama Firman Tuhan pagi ini. Beberapa hari terakhir aku emang sengaja nggak sengaja melewatkan doa pagi. Rasanya dunia ini jungkir balik dan hectic banget sama yang namanya skripsi. Sebagai kompensasi stress dan ketidaktenanganku, aku nyoba buat stay di rumah lebih lama. Pengen ngebandingin enakan mana ngerjain di rumah sama di kosan. Meskipun beberapa kondisi di rumah lebih mendukung. Asupan gizi dan nutrisi yang lebih menjamin prospek skripsi yang berkualitas, jaringan modem yang nggak kayak di goa, dan opsi hiburan yang lebih banyak, merupakan beberapa yang bisa disebut sebagai keuntungan ngerjain skripsi di rumah. Di sisi lain, ternyata atmosfernya tetep beda. Mungkin karena efek kalo di kosan nggak banyak yang bisa dilakuin, giliran di rumah, ada aja yang bisa dilakuin. Ironisnya, banyak hal yang bisa dilakuin itu justru bikin rasa takutku tersangkal dan bukan teratasi. Idealnya, stress dan takutku ini bisa diatasi dengan satu-satunya jalan yaitu cepet nemuin teori, ngerjain bab 1-3, konsul, sempro, konsul, tes IC3, kompre, dan wisuda. Pasalnya, selama di rumah, aku selalu berusaha menghindari rasa takut. Yang ikut bokap nyokap mondar-mandir sama urusannya lah, yang download jurnal tapi nggak dibaca lah, yang justru rempong mikirin konsep café dan pengen join sama temen bikin café lah, yang ngejelajahin semua channel TV dan kemudian selama berhari-hari berkutat sama channel musik Pakistan (yang berakhir pada upaya mendownload beberapa lagu yang catching ears), nonton channel berita India yang jelas-jelas nggak bisa baca karena tulisannya devnagri-an semua, nonton Dora sama Sponges Bob pake bahasa India, nonton channel Perancis sampe mau muntah (karena dengerin pelafalan ngomong mereka. Hahahaa). See? Rasa takut dan kuatir tetep ada. Yaiyalah! Sampe akhirnya aku kumpulin niat buat lebih serius. Tidur pagi demi mencerna kalimat-kalimat jurnal yang keras banget bahasa lidah kejunya. Voila! Hasilnya justru sering bangun kesiangan dan nglewatin doa pagi. Aku ngerasa tetep aja semua ini susah. Aku nggak paham. Bingung mau teori yang mana (sambil ngutukin dosen yang nolak aku pake konsep dan nyuruh aku make teori aja tanpa mau kasih rekomendasi referensi apa kek!).
Nah, pagi ini bagian alkitab yang udah lama aku tinggalin sampe di Keluaran 16. Ceritanya tentang manna surgawi. Di sini aku berasa kena tampol dua loh batu Musa. Intinya berdasarkan perenungan yang masih dangkal banget. Aku ngerasa kondisiku yang rajin ninggalin doa pagi karena tidur pagi demi kelabakan ngumpulin bahan dan teori ini nggak jauh beda sama Israel. Di perikop itu diceritain kalo bangsa Israel selama di padang gurun ini dipelihara Tuhan melalui manna surgawi. Manna ini sejenis makanan yang (katanya) rasanya kayak kue madu (aku sendiri belum tau kue madu seperti apa yang dimaksud) dan secara ajaib diturunkan oleh Tuhan dari langit seperti embun yang membeku. Yang mencuri perhatianku adalah ketika Musa (nabi yang saat itu memimpin rombongan Israel keluar dari Mesir) menyampaikan pada bangsa ini, intinya ambillah manna itu secukupnya. Maka yang mengambil banyak tidak kelebihan dan yang mengambil sedikit juga tidak kekurangan. Dan Musa bilang supaya jangan ada yang ditinggalkan untuk disimpan manna itu (sehari harus langsung abis kali ya). Dengan kata lain ya ambillah secukupnya. Tapi ketika ada yang meninggalkan untuk disimpan, hasilnya adalah manna itu menjadi busuk dan berulat. Nah, di sini aku nangkep kalo kejadian busuknya manna itu semacam ulah oknum yang takut banget kekuarangan stok. Padahal waktu itu dikisahkan kalo setiap hari Tuhan menurunkan dari langit kecuali hari Sabat. Seringkali manusia emang gitu (termasuk aku), kuatir kekurangan sampai akhirnya melakukan hal-hal yang berlebihan tapi hasilnya zonk! Menurutku, Tuhan itu memang sudah mengatur porsi kita. Dia sangat tahu kebutuhan kita. Jadi sebenernya tinggal ikutin aja kalo nggak mau sia-sia. Sama seperti ketika Tuhan memerintahkan bangsa Israel untuk mengambil lebih banyak sebelum hari Sabat (karena pada hari Sabat manna tidak akan diturunkan) dan ketika bangsa itu mengambil lebih banyak dan disimpan untuk keesokan harinya, manna itu ternyata nggak busuk dan berulat.
Sama halnya kek Israel, aku jungkir balik sok sibuk ngejejelin isi jurnal ke otak sampe ngelewatin jam doa. Dan hasilnya pun aku ngerasa belum nemu apa-apa. Aku pun ngerasa nggak jauh beda sama Israel yang menurutku bandel, skeptis sama pemeliharaan Tuhan. Bahwa Tuhan sudah menyediakan sesuai kebutuhan. Harusnya tinggal nurut aja. Toh apa yang kita lakukan di luar porsi kita, malah berpotensi sia-sia kalo Tuhan nggak berkenan (sama kek nasib manna yang disisakan dan akhirnya busuk dan berulat). Jadi intinya, belajarlah mencukupkan diri dan percaya sama pemeliharaan Tuhan. Tuhan sudah atur bagian kita, tapi bukan berarti aku memprovokasi buat santai-santai nunggu berkat. Toh di kisah manna surgawi ini bangsa Israel juga nggak lantas nongkrong-nongkrong nungguin manna nya masuk ke dapur kemahnya sendiri. Tentu mereka juga beraksi, memungut dan mengumpulkan manna itu. Poin lainnya adalah dengerin instruksi Tuhan dan percaya aja. Instruksi juga nggak dateng gitu aja. Kita butuh mendekatkan telinga dan hati buat Tuhan. Nikmati manna secukupnya dan jangan tanya “Mana? Mana?” terus. Percaya aja, nggak ada kelebihan yang sia-sia, dan nggak ada kekurangan. Semuanya cukup. :))))


Kalo pengen baca Keluaran 16 nya. Check it out here http://alkitab.sabda.org/bible.php?book=Kel&chapter=16 or http://www.biblegateway.com/passage/?search=Exodus+16 (New International Version)

Don't ever worry, and happy enjoying your manna! :D





Minggu, 05 Januari 2014

AWESOME SPOTS OF INDONESIA

Postingan kali ini sebenarnya berawal dari seember penuh kurang kerjaan dan secuil penasaran "Mau dikemanain dan harus diapain semua foto-foto yang udah berdesak-desakan secara hina, saking banyaknya mereka."
Diakui atau tidak, aku memang cukup hobi mengabadikan apa yang dilihat dan dirasakan. Kadang sengaja menciptakan objek untuk diabadikan, syukur-syukur kalo pas nemu objek dan hati kecilpun berkata 'ambil dia, ambil dia' (Hyperbola is online now. Hahaha)
Kembali soal foto, karena kemudian sempat terpikir bahwa alangkah baiknya beberapa foto-foto potensial itu diolah dan dikembangkan potensinya. Berbekal kenekatan dan aplikasi seadanya (FYI, aku bukan tipe manusia yang hobi sama ribetnya ngedit foto sebenarnya. Jadi mungkin seleranya jauh dari nilai standar minimal). Tapi aku rasa itu bukan masalah signifikan. Yang penting objek-objek yang sengaja aku bekukan melalui kamera itu bisa punya nilai tambah walaupun sedikit. Dan aku pikir, biar eksistensi para foto itu bisa dinikmati dan berguna, aku memutuskan untuk melakukan sedikit polesan. Toh, aku semakin yakin bahwa 'terkadang gambar memang berbicara lebih banyak daripada sederet kalimat'. 
Beberapa gambar yang aku pilih kali ini cukup berjasa buat menyulut kecintaanku sama negara sendiri. Aku nggak nyalahin program studi yang aku pelajari selama ini, yang cenderung mengunderestimate negara-negara kecil. Hahaha. Tapi sedikit banyak, pola pikirku juga sering bawel sama diri sendiri. "Kenapa sih aku orang Indonesia?", adalah salah satu kalimat tanya klise yang cukup sering muncul tiap ngeliat indahnya Venice, Tuscany, Paris, dan Bora-bora Island. Kesannya memang aku durhaka sama negeri yang sudah Tuhan percayakan untuk aku tempati. Tapi kemudian, pengabadian suatu momen bisa berarti lebih dari sekedar tujuan pengabadian. Ketika aku sedikit mencoba untuk mencerna objek-objek yang dibekukan lewat lensa kamera, aku pun sadar beberapa gambar itu berbicara secara ajaib.
Ya, Indonesia punya pesonanya sendiri yang mungkin memang nggak bisa dibandingkan dengan negara-negara empat musim, tapi Indonesia tetep punya pesona yang bisa disandingkan dengan keindahan-keindahan di belahan dunia lain tersebut. Beberapa ini adalah objek-objek yang eksistensinya mengetuk pintu hati kecilku dan menegur dengan halus bahwa aku tetap harus bersyukur menjadi bagian dari Indonesia. Terlepas dari Indonesia sebagai "state", dan kali ini merujuk pada Indonesia sebagai "country". Ini cuma sebagian kecil dari ribuan bahkan mungkin jutaan pesona alam yang dimiliki Indonesia :)  

Foto ini diambil dengan kamera HP seadanya :D And I'd like to say that this place is incredible amazing! :) Walopun pas disana isinya makhluk-makhluk berjubel yang bikin ngeri kalo-kalo Borobudur overload. Aku juga sempet bayangin pengen ngerampok bank sentral amerika buat beli bangungan yang begini :| 

Kali ini gambarnya diambil nggak cuma make kamera HP seadanya, tapi juga dengan model seadanya. Hahaha. 

Kalo yang ini, secara nggak sengaja diambil di tengah perjalanan dari Salatiga ke Magelang, dari balik kaca. Nggak tau nama daerahnya, yang jelas, kece bingits ya :)

Sementara, yang terakhir ini beda setting tempatnya dari tiga sebelumnya, cuma karena masih satu tema, jadi not so bad lah ya kalo digabungin. Gambar ini diambil waktu lagi nengok kebun babe yang terbengkalai di Jepara. Di sini anginnya eksotis banget, tapi mataharinya nyolot, tanahnya merah imut, dan masih banyak area yang keliatan alami :)

Lantas tidak ada alasan untuk tidak bersyukur memiliki dan dimiliki oleh Indonesia, negeri yang masih punya banyak alam ijo-ijonya gini :)) INDONESIA!




Rabu, 01 Januari 2014

FELICE ANNO NUOVO!!

“Jangan engkau pikirkan, yang lalu-lalu. Ingatlah akan masa depanmu.”
Sederet lirik lagu ini emang terkesan klasik. Tapi itulah fakta paling deket sama tahun baru. Sebelum lanjut menuhin halaman ini, perkenankan daku mengucapkan Bonne annee alias nav varsh ki subhkamna alias felice anno nuovo alias HAPPY NEW YEAR!! *ketjup bango :3
Ngomong-ngomong soal tahun baru, sebenernya momen ini nggak pernah jauh sama bahasan tentang waktu. Lebih spesifik, momen tahun baru itu emang masa peralihan antara yang lama dan yang baru, pintu antara yang di belakang dan di depan. Tiba-tiba keinget juga soal asal muasal kata sebutan untuk bulan pertama di kalender masehi, kenapa nama bulan pertama ini bukan Zipora, melainkan Januari? Jawabannya adalah terinspirasi dari salah satu nama dewa orang-orang Romawi, yaitu Janus, yang merupakan dewa dengan dua muka. Terlepas dari berbagai persepsi orang dalam memaknai dua muka si Janus ini, tapi make sense kalo tahun baru itu sebenernya sama kayak fenomena tersebut. Dimana dengan transisi dimensi waktu ini berarti kita menyambut apa yang akan dihadapi di depan. Di sisi lain, kita nggak boleh lupa sama yang di belakang. Nggak selamanya melihat ke belakang itu bahaya, sejauh tujuan melihat itu untuk melakukan evaluasi diri :D
Jadi meskipun aku termasuk orang yang pro sama gerakan move on, tapi aku juga pendukung gerakan ‘jasmerah’. Salah satu bukti kalo melihat ke belakang itu bisa berdampak signifikan adalah kalo kita sadar betapa pentingnya kaca spion untuk sebuah kendaraan. Mungkin tanpa kaca spion sih masih bisa jalan itu kendaraan, tapi cukup bahaya. Selain berpotensi ditilang polisi, nggak menutup kemungkinan bisa menambah angka kecelakaan lalin. Jadi dengan cukup mantap bisa dibilang bahwa melihat ke belakang itu penting, tapi fokus ke depan adalah jauh lebih penting.
Kembali ke spion lagi, yang menginspirasi untuk melihat ke belakang untuk mendukung masa depan. Kalo diperhatiin lagi, spion itu juga tempatnya ga sembarangan, hanya ditaruh di spot-spot tertentu pada suatu kendaraan. Itu artinya, nggak semua-semua yang ada di belakang harus dilihat. Ada bagian-bagian tertentu yang memang perlu dilihat, ada juga bagian-bagian tertentu yang memang nggak perlu ditengok. Begitu juga masa lalu. Selain itu, kaca spion juga cenderung kecil ukurannya. Jadi bisa diartikan kalo melihat masa lalu itu memang perlu, tapi jangan kebanyakan. Kurang bisa ngebayangin kalo kaca spion yang harus dipasang adalah segedhe papan tulis. Pertama, itu nggak praktis, kedua, mungkin bisa ngedistrak fokus pengendaranya karena justru kebanyakan objek di belakang yang bisa dilihat. Pun juga masa lalu. Kalo dosis yang dilihat masih wajar, itu bisa jadi kaca spion yang berfungsi. Tapi kalo ngelihat masa lalunya overdosis, itu bisa sama dengan ketika kita masang kaca spion segedhe papan tulis tadi buat kendaraan yang dinaiki J
Oke, moving on. Masih seputar topik tahun baru. Aku sendiri sebenernya agak nyesek masuk ke 2014 dan yang pertama menyilet benak adalah kata ‘skripsi’ dan ‘wisuda’. Tapi Tuhan itu baik, lewat papa, aku ngerasa diberi pesan untuk tahun baru ini. Pesan itu bersumber dari kitab Pengkhotbah 3:1, yang demikian bunyinya “Untuk Segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”
Ayat ini sukses bikin aku terharu putih (Kebetulan aku lagi suka warna putih ketimbang biru). Dalam segala hal, kadang manusia memang pengennya buru-buru. Di situlah obsesi menciptakan ‘masa’ justru sering jadi boomerang buat manusia. Aku sendiri kadang ngerasa kalo aku harus A, B, dan C, sekarang. Dan kemudian frustasi karena kenyataannya tidak demikian. Ini yang aku maksud menciptakan ‘masa’ sendiri. Ironisnya, manusia memang hobi menciptakan ‘masa’. Sering lupa kalo Tuhan lah yang mengatur semuanya. Jadi, nggak salah kalo ada kalimat bijak yang bilang “Tuhan tidak pernah terlambat, Dia juga tidak pernah tergesa-gesa. Dia selalu tepat waktu.”
Semua ada waktunya. Mau nggak mau, ini juga menyeret kepada sebuah keyakinan bahwa nggak ada yang abadi. Semua memang ada waktunya. Berarti dimensi waktu yang diciptakan nggak cuma satu. Maka inspirasi lainnya dari momen tahun baru adalah, bahwa belajar untuk menikmati semua yang terjadi dan dihadapi itu perlu. Karena semua ada masanya, maka nggak ada dukacita abadi, dan nggak ada sukacita yang terus-terusan mewarnai kehidupan. Untuk itu, kalo pas lagi sedih, inget aja masa-masa seneng yang pernah dan pasti akan datang lagi. Begitu juga kalo lagi seneng, jadilah seneng yang sewajarnya dan tetep mawas diri. Hehehe.
Well, it’s around 02.53am now. I’m sleepy already, guys. Thus, best wishes for new days of 2014 ahead, for you and me. Sugeng warsa enggal sedaya. Gusti mberkahi… J







Senin, 30 Desember 2013

A Relationship

Yang namanya jomblo itu beda sama single. Yang nggak setuju nggak perlu lanjutin bacanya. Hahaha

Jadi tulisan ini bermula dari pemberontakan hati kecil atas tuduhan-tuduhan miring yang akhir-akhir ini sering aku terima. Nggak cuma kado natal, tapi juga hinaan yang aku hadapi dengan cukup santai karena aku yakin itu bukan kenyataan. Bermula dari acara kumpul natal keluarga besar, kemudian tragedi pembullyan oleh para sepupu, pelabelan dan statusisasi "jomblo" dengan sadisnya, hingga tawaran pacar yang berpotensi menewaskan kepercayaan diri seorang single. Hey, I'm not that desperate. Thanks!
Aku setuju sama sebuah statement yang pernah aku baca tentang pembedaan jomblo dan single. Salah satu yang paling membekas di ingatan adalah "Jomblo: jadian sama siapa aja, yang penting orang | Single: Jadian harus sama orang penting."
Mungkin faktanya nggak seekstrim itu. Tapi... ah, ya gitulah, I do hope you know what I mean :D
Jadi intinya, kenapa harus buru-buru in relationship hanya karena cercaan sebagai jomblo yang diterimakan? Kalo kita yakin kesendirian ini adalah masa-masa single yang indah, you can change the world's point of view! Why not? Hahaha
Ngomong-ngomong tentang in relationship, nggak jauh-jauh sama yang namanya move on. Biasanya fase single merupakan masa tenggang antara done relationship dan move on. Banyak kasus sih gitu. Jadi single itu bukan berarti nggak laku. Malah aku pernah denger juga sebuah argumen bagus yang bilang kalo "Yang jelek itu biasanya lebih gampang punya pacar". No offense, tapi cukup berbasis fakta empiris yang sering dijumpai di lapangan. Bukan berati kita harus sengaja nggak punya pacar biar nggak dikatain jelek ya :D
Nah, tapi ini juga kemudian menjadi sebuah dukungan bagi para single yang sebenernya memilih untuk menjadi single. Well, meskipun kadang ada juga yang sebenernya udah pengen punya pacar, tapi mereka tetep enjoy sebelum akhirnya menemukan the right one versi masing-masing. Para single ini menurutku adalah mereka yang merupakan spesies keren. Being single is better than a wrong relationship. Yup bener banget, karena memang single itu nggak lebih buruk dari wrong relationship. Buat apa maksain statusisasi in relationship kalo ternyata cuma buat biar dikata laku, keliatan keren, kemana-mana ada temennya, dll dll. Dan buat apa buru-buru pengen move on instan demi sebuah hubungan baru yang ternyata malah berpotensi jatuh lagi (karena ngebut itu berpeluang besar buat celaka di jalan) :)
Poinnya bukan berarti in relationship itu salah, tapi selama seseorang itu sadar bahwa sebuah hubungan itu memakan proses (kalau mau instan sih bikin mie aja), maka semakin besar seseorang tersebut bisa membangun hubungan yang nggak asal-asalan. Terinspirasi dari proses fermentasi anggur, buat jadi anggur berkualitas, prosesnya nggak kejar tayang. Mulai dari bibit yang diharapkan bisa jadi anggur yang bisa ada di sebuah gelas dan berlabel mahal, butuh waktu, kerja keras, dan usaha. Begitu juga suatu hubungan. Just an opinion sih, tapi intinya yang penting jangan asal-asalan membangun sebuah hubungan kalo itu hanya demi menghindari kumandang status single. Dan untuk menjadi single yang baik, jangan biarkan bullyan alam sekitar menjatuhkan keyakinan bahwa kamu adalah single dan bukan jomblo. Hahaha ;)
Hidup Single!! Enjoy the process, keep thinking positively :3


Ini adalah inti dari tulisan kali ini, sekaligus mau pamer hasil jepretan iseng dan text adding ala kadarnya. Semoga bisa menguatkan iman para single dimanapun berada. Mumumu.... :D



p.s. Unsur muatan tulisan hanyalah berasal dari dunia saya yang absurd. Baik foto maupun substansi tulisan. Harap maklum. Sekian dan terima sumbangan :*




Minggu, 29 Desember 2013

Just Nice To Meet You...

Katanya orang cenderung enggan membaca buku yang sama dan sudah pernah dibaca, atau menonton film yang sudah pernah ditontonnya, dan mentertawakan kembali lelucon yang sudah pernah didengarnya.
Hari ini aku berharap bisa jadi orang berjenis demikian. Tapi rasanya kurang cukup berhasil.

Berawal dari surprise akhir tahun dari Tuhan, dimana papa diundang buat pelayanan di suatu gereja yang denger namanya aja- aku udah tahu akan seperti apa seandainya aku benar-benar mengunjungi gereja itu. Dan aku semakin yakin bahwa Tuhan itu humoris. Mau nggak mau, aku harus nahan gemeter, suhu tubuh mendadak turun, dan berusaha terlihat sewajar mungkin waktu aku tahu kalo ini bukan mimpi malam natal. Aku bener-bener datang ke suatu tempat yang ngingetin sama eksistensi satu makhluk yang nggak bisa disangkal keberadaannya, yang pernah bener-bener bikin aku semangat sekolah, semangat masuk SMA favorit, sekaligus galau karena ditinggal ngilang-ngilang sampe akhirnya ga pernah ketemu sejak bertahun-tahun lalu. HAHAHA!
Berasa diterbangin angin kenceng ke suatu dimensi ruang dan waktu yang selama ini udah berusaha aku lupain. Dimensi ruang dan waktu dimana aku diem-diem suka sama temen sekelas, sampe akhirnya harus ngeliat dia sama orang lain. Hahaha, at least today was not that day.
Intinya, hari ini aku bisa belajar kalo emang Tuhan itu selalu punya cara buat segala hal. Aku memang nggak berniat buat kembali ke feeling yang dulu. Tapi meskipun hari ini aku berharap logikaku bekerja seratus kali lipat lebih aktif, tapi nggak bisa disangkal kalo niatku sejak semalem nggak terlalu berhasil. I just wanna make him feel “If the chain is on my door, you should understand”
Cukup aku dan Tuhan yang tau betapa cukup menyiksa menahan grogi luar biasa sebelum akhirnya aku harus senyum dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja saat disapa. Dan cukup aku dan Tuhan yang tahu saat aku masih terlonjak senang bukan kepalang ketika mendengar nada yang sama pada kata “Zipo”, gembira luar biasa ketika akhirnya dia mengirimkan pesan setelah acara gereja selesai, sakit perut ketika dia bertanya “Mungkin cuma perasaanku atau emang iya, tapi tiap ngomong sama kamu kok kamu ga liat mukaku ya? Bener ga? Hehe”


Iya, bener. Aku selalu nggak bisa. Dari dulu. Dan harusnya kamu tahu. Tapi yasudahlah. Just nice to meet you today...




Selasa, 05 November 2013

NOVEMBRE'

Halo, blog! Lama ya nggak ketemu.Hahaha Aku baru selesai sok sibuk nih. Banyak cerita sejauh ini, tapi aku ceritainnya ke laporan magang. Hehe, jangan jeles ya, Blog J
Roller Coaster yang aku naikin sejak Juli? Sejak aku nggak pernah nyambangin kamu? Banyak. Banyak penambahan dan pengurangan dalam diriku loh. Haha Isn’t that cool enough? Nggak kerasa sekarang aku fixed jadi mahasiswa tua. Pantes aja kemarin sempet galau mau balik ke Malang. Aku ngerasa diusik lagi. Aku ngerasa nggak mau ‘ngerasain’ tua. Aku ngerasa udah nyaman sama kehidupan sebelumnya. Aku ngerasa peraturan kampus itu aneh. Aku ngerasa dan aku mikir kalo aku cukup gila kalo sampe nggak mau balik ke kampus :D

So sad to be honest, kadang yang aku ngerasa lucu dari hidup ini, manusia, kayaknya memang tercipta sebagai makhluk pencari yang harus menemukan dan meninggalkan ketika sudah menemukan. Ya, kalopun nggak semua manusia mengalami itu, at least aku satu-satunya manusia yang ngerasa itu. Sering kita dipaksa (hingga kemudia terbiasa) nyaman pada suatu kondisi, dan setelahnya kita harus tinggalin itu semua. Ya mungkin statement ini merupakan bagian dari ketidakikhlasanku buat harus balik ke kampus setelah apa yang aku nikmati akhir-akhir ini.
Awalnya, aku harus magang, meninggalkan zona nyaman di kampus bareng temen-temen. Kemudian harus terjun ke dunia kerja yang aku bayangin enak tapi bakal penuh tekanan. Dan diakui atau tidak sebenernya aku males waktu harus berangkat magang. Tapi bersyukur Tuhan kasih aku semangat dengan tempat magang yang oke lah ya. Aku inget banget 1 bulan pertama aku magang dan masih bener-bener nggak habis pikir sama kondisi yang harus aku senangi. Apa yang bisa disenangi dari lalu lintas freak dan 1000% bikin ilfil dan ilang semangat ngantor, lingkungan kantor yang isinya orang2 tua dan aku berasa anak kecil yang main2 di tempat yang nggak seharusnya, jauh dari keluarga, dan nggak ada temen? Pada titik itu, aku harus seneng dan beradaptasi sama semua kondisi yang terhampar. Aku memang seneng sama kegiatan kantor, tapi lingkungan, kondisi lain-lain (terutama lalu lintas), justru hal sepele itu yang selalu sukses bikin mood baik jadi melayang sebelum sempet sampe kantor. Beruntung rekan kerja juga baik-baik walaupun mereka tua-tua K
Tapi aku inget kebaikan Tuhan. Waktu aku berusaha adaptasi dan secara total seneng sama semua kondisi di sana, seorang temen baru dikirim jauh-jauh dari Madrid. Dia calon Ph. D yang keterlaluan cool menurutku. Dia lagi diundang penelitian sama pihak kedubes India. Sosok inspiring deh. Pengalamannya yang banyak bikin dia sukses jadi kakak perempuan idaman yang nunjukkin banyak hal, nemenin jalan-jalan,berbagi ini itu. Sampe akhirnya aku betah di tempat magang dan Jakarta seutuhnya. Sayangnya waktuku tinggal dua minggu sebelum akhir Agustus- yang artinya magangku udah hampir selesai. *sigh* Jadi aku harus pergi setelah aku udah betah gitu? Ya, itulah hidup. Kadang fakta kedengeran nggak jauh beda sama lawakan. Tapi emang anugerah itu nggak pernah habis. Tepat seminggu sebelum jadwal magang selesai, aku ingetin kepala kantor kalo minggu depan adalah minggu terakhirku. Dan tiga hari setelahnya aku dipanggil beliau. Freaking surprised! Awalnya beliau nanya apa kesibukan setelah balik nanti. Aku jelasin bakal nyelesaiin report dan skripsi. Dan beliau tanya apa aku harus setiap hari ke kampus. Off course, no. Jadi akhirnya aku ditawarin kerja di sana. Setelah aku bilang aku nggak bisa kelamaan karena itu aturan dari kampus, beliau tawarkan jalan tengah kalo aku bisa nyoba kerja di sana sampe akhir oktober. Sebenernya ditawarin pun udah cukup bikin terbang ngawang, tapi ternyata Mr. Gupta, kepala kantor itu bilang kalo aku bakal terhitung sebagai local staff dan digaji sejak September sampe Oktober. Aku dikasih kesempatan terlibat di 2 kepanitiaan besar, Perayaan 100 Tahun Sinema India dan Kunjungan Perdana Menteri India, yang bahkan nggak semua staff lama dilibatkan. Intinya, aku menikmati semua kehidupanku di sana. Kehidupan yang lebih mandiri (mentally and financial), kehidupan kerja yang ngajarin banyak hal, nggak cuma hardskill tapi juga softskill. Masih inget banget gimana kadang unsatisfiednya ngelakuin sesuatu dengan nggak sepikiran cuma karena beda latar belakang budaya sama partner kerja. Tapi aku bener-bener suka semua itu. Hingga akhirnya aku memang harus balik ke kampus. Balik ke dunia mahasiswa, dunia yang…. Ah, ya sudahlah.

Sedihnya ninggalin zona nyaman yang dulu diperjuangkan untuk didapat demi memperoleh zona nyaman yang lain lagi, itu yang aku nggak habis pikir sama hidup manusia. Tapi aku inget ada satu orang yang pernah bilang, “But people move on, kan. Can’t stay in one place forever”. Seenggaknya itu cukup menghibur. People. I’m not alone then.  J Dan mungkin aku yang aku rasain pas galau harus ninggalin zona nyaman kemarin, itu belum seberapa dibanding pengalaman orang yang mungkin harus pergi setelah 8 tahun tinggal di suatu tempat. Hahaha. The spirit carries on! *nyalain kembang api*